Tutup
Regulasi

Analisis Prospek Kinerja Emiten Konstruksi di Tengah Tantangan Global

138
×

Analisis Prospek Kinerja Emiten Konstruksi di Tengah Tantangan Global

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Kinerja sektor konstruksi sepanjang 2025 menunjukkan kontras yang tajam antara perusahaan swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sementara emiten swasta berhasil mencatatkan pertumbuhan laba yang signifikan, perusahaan konstruksi pelat merah justru masih terpuruk dengan pembengkakan kerugian.

PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) dan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) menjadi dua emiten swasta yang tampil impresif. TOTL mencatatkan pendapatan Rp3,90 triliun, tumbuh 26,35% secara tahunan (YoY), yang diikuti lonjakan laba bersih sebesar 56,09% menjadi Rp414,39 miliar. Senada dengan itu, NRCA meraih pendapatan Rp3,61 triliun dengan lonjakan laba bersih yang fantastis sebesar 115,1% menjadi Rp175,52 miliar.

Sebaliknya, kondisi berbeda dialami oleh emiten konstruksi BUMN. PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT PP Tbk (PTPP), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) kompak mencatatkan kerugian yang kian dalam di tahun 2025. WSKT merugi Rp3,92 triliun, PTPP merugi Rp6,07 triliun, ADHI membukukan kerugian Rp5,4 triliun, dan WIKA mencatatkan rugi bersih hingga Rp9,7 triliun.

Direktur Reliance Sekuritas, Reza Priyambada, menilai disparitas kinerja tersebut dipicu oleh perbedaan model bisnis. Emiten swasta dinilai lebih tangkas (agile) dan memiliki posisi keuangan yang lebih sehat, sementara emiten BUMN masih terbebani oleh proses restrukturisasi utang yang cukup panjang.

“Perolehan kontrak yang lebih baik di tahun 2025 menjadi motor penggerak utama bagi emiten swasta,” ujarnya.

Memasuki 2026, optimisme pemulihan sektor konstruksi mulai muncul. Proyek pembangunan gedung pusat data (data center), pergudangan, hingga fasilitas komersial diperkirakan akan menjadi katalis utama. Selain itu, pembangunan fasilitas pengolahan mineral (smelter) di luar Pulau Jawa serta revitalisasi properti turut menopang pendapatan bagi kontraktor spesialis industri.

Kendati prospek membaik, industri konstruksi masih harus mewaspadai sejumlah tantangan yang berlanjut dari tahun 2025. Pertama, fluktuasi harga material seperti baja dan semen yang terus menekan margin keuntungan. Kedua, beban bunga pinjaman yang masih relatif tinggi sehingga memengaruhi biaya modal kerja.

Terakhir, sektor konstruksi kini dituntut beradaptasi dengan penerapan standar *Environmental, Social, and Governance* (ESG). Tuntutan penggunaan material ramah lingkungan atau *green construction* memaksa emiten untuk meningkatkan investasi pada teknologi konstruksi baru.

Khusus untuk emiten seperti TOTL, prospek bisnis dinilai tetap cerah seiring dengan mulai menggeliatnya kembali pembangunan gedung bertingkat, perkantoran, serta apartemen premium di kota-kota besar seperti Jakarta.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Anak usaha PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melalui Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd (SEGWWL) yakni Star Energy Geothermal berhasil meraih PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Penghargaan ini diperoleh sebagai pengakuan atas kinerja lingkungan yang melampaui kepatuhan dan kontribusi terhadap kesejahteraan sosial secara berkelanjutan. Presiden Direktur Barito Renewables Energy dan Grup CEO Star…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan ke level 7.634 pada pekan lalu, naik 2,35%. Meski demikian, aliran dana asing masih mencatatkan aksi jual bersih SumbarSumbarbisnis.com sell sebesar Rp 2,4 triliun yang didominasi sektor perbankan. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengatakan, pergerakan pasar masih sangat dipengaruhi oleh dinamika global, terutama ketegangan geopolitik di Timur Tengah….

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), arah suku bunga acuan yang diperkirakan tetap stabil dinilai menjadi sentimen positif bagi sektor perbankan. Kondisi ini membuka ruang bagi perbaikan transmisi kebijakan moneter sekaligus meredakan tekanan margin bunga, yang berpotensi mendorong pemulihan kinerja saham bank. Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan…