Jakarta – Pemerintah tengah berupaya keras menggenjot produksi minyak bumi nasional guna menekan ketergantungan terhadap impor BBM. Langkah strategis ini ditempuh untuk meminimalisasi dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap ketahanan energi dalam negeri.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan, pihaknya sedang menyiapkan implementasi teknologi ekstraksi nontradisional atau unconventional pada sejumlah blok migas. Berdasarkan kajian Pertamina Hulu Rokan, Blok Rokan dinilai menjadi wilayah dengan potensi pengembangan paling besar.
Yuliot menyebut pemerintah berkaca pada keberhasilan Amerika Serikat yang sukses menjadi negara pengekspor minyak berkat penerapan teknologi serupa. Saat ini, pemerintah tengah melakukan pembahasan intensif bersama SKK Migas terkait berbagai penawaran teknologi yang sudah masuk.
Pemerintah menargetkan penyelesaian kerangka regulasi teknologi ini pada akhir Juni, agar dapat mulai diimplementasikan pada awal Juli mendatang. Dengan meningkatnya produksi domestik, Yuliot optimistis fluktuasi mata uang tidak akan lagi memberikan tekanan signifikan bagi kebutuhan energi nasional.
“Kalau tingkat produksi dalam negeri terjadi peningkatan, berarti kita juga akan mengurangi impor dan juga tidak terpengaruh terhadap perubahan atau fluktuasi mata uang,” ujar Yuliot di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Jumat (5/6).
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menambahkan, uji coba pengeboran sumur unconventional telah menunjukkan hasil positif. Satu sumur yang telah diuji mampu menghasilkan 500 barel minyak per hari, angka yang diproyeksikan melonjak hingga ribuan barel seiring penambahan jumlah sumur.
Selain metode tersebut, pemerintah juga mengakselerasi penerapan teknologi fracking serta Enhanced Oil Recovery (EOR). Berbagai upaya integratif ini dilakukan demi mengejar target produksi minyak nasional sebesar 900 ribu hingga 1 juta barel per hari pada 2029.







