Tutup
BisnisEkonomiNews

Konflik Timur Tengah Naikkan Harga Kopi dan Teh

50
×

Konflik Timur Tengah Naikkan Harga Kopi dan Teh

Sebarkan artikel ini
secangkir-kopi-dan-teh-kini-lebih-mahal,-efek-perang-mulai-terasa-di-sektor-kuliner
Secangkir Kopi dan Teh Kini Lebih Mahal, Efek Perang Mulai Terasa di Sektor Kuliner

Jakarta – Memanasnya konflik Iran,Israel,dan keterlibatan Amerika Serikat memicu gejolak ekonomi global. Penutupan Selat Hormuz sebagai jalur penting distribusi minyak dunia membuat harga energi naik dan berdampak pada biaya listrik, gas, hingga distribusi bahan baku.

Dampaknya mulai terasa di berbagai sektor, termasuk usaha makanan dan minuman. Sejumlah warung kopi di negara tetangga pun mulai menaikkan harga minuman seperti kopi dan teh agar operasional tetap berjalan di tengah lonjakan biaya.

Di Singapura, sejumlah coffee shop tradisional dilaporkan mulai menaikkan harga minuman sekitar 10 hingga 30 sen, atau setara Rp1.300 hingga Rp3.900 per gelas dengan asumsi kurs Rp13.000 per dolar Singapura.

Salah satu yang lebih dulu melakukan penyesuaian adalah sebuah kafe di kawasan MacPherson. Tempat itu sebelumnya memasang pemberitahuan kepada pelanggan bahwa mulai 1 April, seluruh minuman dan beberapa menu makanan dari tenant mereka akan mengalami kenaikan harga sekitar 10 hingga 20 sen.

Tak hanya itu, beberapa kedai lain juga mulai mengambil langkah serupa. Pemilik kafe lain di Bedok mengatakan pihaknya akan menaikkan harga beberapa minuman setidaknya 10 sen per cangkir mulai 1 Mei. Ia juga akan menerapkan kebijakan serupa di tiga kafe lain miliknya yang berada di asrama pekerja migran.

menurutnya, bahkan saat pandemi covid-19, ia tidak menaikkan harga di tiga lokasi tersebut. Namun,lonjakan biaya gas dan listrik saat ini membuat kondisi menjadi sulit dipertahankan.

“Kami benar-benar sudah tidak sanggup lagi,” ujarnya. “Kami harus melakukan penyesuaian.”

Pengelola kios minuman di Blok 116 Toa Payoh Lorong 2 yang sudah lebih dulu menaikkan harga sebesar 10 sen per gelas pada april juga menyampaikan hal serupa. Mereka menegaskan penyesuaian harga diperlukan agar usaha tetap berjalan dan berharap pelanggan dapat memahami kondisi tersebut.

Terkait ini, Ketua foochow Coffee Restaurant and Bar Merchants Association, Hong Poh Hin, menyebut operator coffee shop memang menghadapi kenaikan berbagai biaya hingga 20 persen sejak awal 2026. Tagihan listrik juga diperkirakan masih akan terus meningkat dalam beberapa waktu ke depan.

Jaringan Kim San Leng yang mengoperasikan lebih dari 30 coffee shop juga mulai menyesuaikan harga secara bertahap sejak 15 April. Namun, kenaikan tarif tidak dilakukan seragam di semua lokasi.Direktur perusahaan menjelaskan bahwa tiap outlet memiliki pertimbangan berbeda, seperti biaya sewa, jumlah pelanggan, hingga tingkat persaingan di area tersebut.