Tutup
Regulasi

Indeks Bisnis-27 Menguat Awal Pekan Didorong Saham BRPT, INCO, dan BUMI

94
×

Indeks Bisnis-27 Menguat Awal Pekan Didorong Saham BRPT, INCO, dan BUMI

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Indeks Bisnis-27 dibuka di zona hijau pada perdagangan awal pekan, Senin, dengan mencatatkan penguatan sebesar 0,45% ke level 476,24. Pergerakan positif ini terjadi di tengah sikap waspada investor yang menanti hasil pertemuan bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

Hingga pukul 09.05 WIB, data IDX Mobile mencatat sebanyak 16 saham konstituen menguat, 7 saham terkoreksi, dan 4 saham lainnya stagnan.

Saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) menjadi pendorong utama indeks setelah melonjak 5,45% ke level Rp2.130. Penguatan juga diikuti oleh PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) yang naik 4,10% ke level Rp6.975 serta PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang terapresiasi 3,70% ke level Rp224.

Selain itu, kenaikan turut dicatatkan oleh PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) sebesar 2,24% ke posisi Rp1.140, serta pergerakan saham PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM).

Di sisi lain, sejumlah saham justru menekan laju indeks. Saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) tercatat melemah 3,85% ke level Rp30.625, diikuti oleh PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) yang turun 0,71% ke level Rp1.400. Saham perbankan dan konsumer juga terkoreksi, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) turun 0,67% ke Rp4.478 dan PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) melemah 0,57% ke Rp870.

Tim riset Phintraco Sekuritas memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan berada di bawah tekanan pada pekan ini. Sentimen ketidakpastian global masih mendominasi, dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta sikap hati-hati pelaku pasar menjelang agenda ekonomi penting dunia.

Pasar global saat ini tengah mencermati dinamika negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran, serta kelanjutan konflik di Lebanon Selatan. Investor juga bersiap menghadapi pertemuan sejumlah bank sentral utama dunia, seperti The Fed, European Central Bank, Bank of England, dan Bank of Japan, sekaligus menanti rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 dari AS dan Eropa.

Dari sisi domestik, pasar mewaspadai dampak konflik global terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri, mulai dari tekanan nilai tukar rupiah, potensi lonjakan inflasi, hingga risiko pelebaran defisit APBN 2026.

Sentimen tambahan juga datang dari lembaga pemeringkat Moody’s yang baru saja mempertahankan peringkat utang Indonesia di level Baa2. Meski demikian, Moody’s menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif dengan menyoroti meningkatnya risiko eksternal.

***

*Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Penulis dan media tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.*