Jakarta – Perubahan lanskap ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya memengaruhi dunia usaha, tetapi juga cara generasi muda memandang masa depan finansial mereka. Generasi Z kini menghadapi tekanan ekonomi berat, mulai dari biaya hidup yang terus naik hingga ketidakpastian pasar kerja yang berkepanjangan.
Di tengah kondisi itu, muncul fenomena baru bernama disillusionomics, istilah yang menggambarkan respons Gen Z terhadap sistem ekonomi yang dinilai tak lagi sejalan dengan harapan lama.
Alih-alih menempuh jalur konvensional seperti mencari pekerjaan tetap dan menyusun perencanaan jangka panjang, banyak dari mereka memilih pendekatan yang lebih fleksibel dan adaptif. Konsep ini diperkenalkan ekonom muda Alice Lassman yang melihat adanya pola perilaku baru di kalangan generasinya.
Ia menilai Gen Z tumbuh dengan pengalaman krisis yang berulang sehingga membentuk cara pandang berbeda terhadap stabilitas ekonomi. “Sistem ekonomi yang dibicarakan orang tua mereka sebenarnya tidak akan berjalan dengan cara yang sama bagi mereka,” ujar Lassman, sebagaimana dikutip dari Fortune, Sabtu, 2 mei 2026.
Menurut dia, ada kesenjangan antara apa yang diajarkan tentang ekonomi dan realitas yang dihadapi generasi muda saat ini. “saya pikir ada perasaan umum di kalangan anak-anak di sekolah dan dari konten yang mereka konsumsi, bahwa semuanya tidak berjalan sebagaimana mestinya,” lanjutnya.
Kondisi ini mendorong banyak Gen Z mengubah strategi keuangan mereka. Kepemilikan rumah,pensiun,hingga membangun keluarga kini tidak lagi menjadi tujuan utama yang realistis bagi sebagian dari mereka.
Sebagai gantinya, mereka mulai mengandalkan berbagai sumber penghasilan sekaligus. Fenomena ini terlihat dari meningkatnya tren memiliki lebih dari satu pekerjaan atau sumber pendapatan, mulai dari pekerjaan utama, pekerjaan sampingan, hingga aktivitas di ekonomi digital seperti menjadi kreator konten atau membuka usaha kecil untuk meningkatkan pemasukan.
pendekatan ini membuat kehidupan finansial Gen Z menyerupai portofolio, di mana setiap aktivitas memiliki potensi menghasilkan uang.Cara ini juga dipengaruhi perkembangan teknologi yang memungkinkan monetisasi berbagai aspek kehidupan sehari-hari.
Selain itu, sikap skeptis terhadap institusi tradisional seperti pemerintah dan perusahaan juga makin terlihat. Hal ini ikut memengaruhi cara mereka mengambil keputusan finansial, termasuk dalam konsumsi dan investasi.







