Jakarta – Bank Sentral Jepang (BoJ) resmi mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,0 persen pada Selasa (16/6). Angka ini mencatatkan rekor tertinggi dalam 31 tahun terakhir, atau sejak 1995.
Langkah pengetatan moneter ini diambil sebagai respons atas lonjakan inflasi akibat gejolak di Timur Tengah, meski Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati perjanjian perdamaian. Keputusan tersebut sebenarnya sudah diantisipasi pasar setelah langkah serupa dilakukan Bank Sentral Eropa dan Indonesia pekan lalu.
BoJ menyatakan bahwa ekonomi domestik sejauh ini masih kuat berkat tingginya profit perusahaan dan perbaikan di sektor ketenagakerjaan. Meski begitu, bank sentral tetap waspada terhadap dampak kenaikan harga minyak yang mulai merembet ke tingkat konsumen.
“Ada risiko inflasi CPI menyimpang ke atas hingga melampaui target stabilitas harga sebesar dua persen,” tulis BoJ dalam pernyataan resminya. Ke depan, mereka berencana melakukan penyesuaian tingkat akomodasi moneter secara bertahap.
Selain menaikkan suku bunga, BoJ memberi sinyal akan menghentikan program pembelian obligasi besar-besaran setelah April mendatang. Kebijakan ini menjadi upaya untuk menopang nilai tukar yen yang sempat terpuruk di level 160 per dolar AS.
Pemerintah Jepang sebelumnya telah mengucurkan dana sebesar 11,7 triliun yen atau setara US$72 miliar bulan lalu untuk menjaga stabilitas kurs. Pasca pengumuman suku bunga ini, nilai mata uang yen langsung melonjak, sementara indeks saham Nikkei 225 menembus level 70.000 poin.
Terkait respons kebijakan, Wakil Gubernur BoJ Shinichi Uchida dijadwalkan memberikan keterangan pers sore ini. Ia akan menggantikan peran Gubernur Kazuo Ueda yang saat ini sedang menjalani perawatan di rumah sakit.
Posisi BoJ kini cukup menantang karena adanya tekanan pasar agar terus memperketat suku bunga. Di sisi lain, Perdana Menteri Sanae Takaichi telah mewanti-wanti agar tingginya biaya pinjaman tidak menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.







