Energi

Harga Minyak Turun Akibat Meredanya Konflik di Timur Tengah

209
×

Harga Minyak Turun Akibat Meredanya Konflik di Timur Tengah

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan pelemahan seiring dengan meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta peningkatan pasokan global yang menekan harga komoditas energi tersebut.

Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (10/6/2026) pukul 15.47 WIB, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli 2026 berada di level US$ 88,13 per barel. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 0,08% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Secara akumulatif, harga minyak WTI telah terkoreksi sebesar 4,10% dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Analis komoditas menilai, penurunan harga minyak dipicu oleh kepastian pasar terkait penghentian operasi militer Iran terhadap Israel. Kondisi ini secara signifikan mengurangi “premium risiko” yang sebelumnya sempat memicu lonjakan harga akibat kekhawatiran akan gangguan pasokan di Selat Hormuz. Laporan mengenai intervensi diplomasi Amerika Serikat yang mendesak penahanan diri dari kedua belah pihak turut memberikan sentimen positif bagi stabilitas pasar energi.

Selain faktor geopolitik, pasar minyak mentah saat ini tengah dipengaruhi oleh faktor musiman. Secara historis, periode menjelang akhir kuartal II merupakan masa pemeliharaan rutin kilang-kilang minyak sebelum memasuki puncak musim panas. Aktivitas pemeliharaan ini menyebabkan permintaan terhadap minyak mentah dari sektor kilang cenderung melambat.

Dari sisi suplai, produksi minyak dunia mengalami diversifikasi yang signifikan. Negara-negara non-OPEC+, termasuk Amerika Serikat dengan produksi shale oil-nya, serta peningkatan output dari Guyana dan Brasil, terus membanjiri pasar. Peningkatan pasokan ini mampu menutupi defisit yang sebelumnya diciptakan oleh kebijakan pemangkasan produksi dari anggota aliansi OPEC+.

Lebih lanjut, kebijakan moneter global yang ketat turut menjadi beban bagi harga energi. Sikap hawkish dari bank-bank sentral utama dunia, ditambah dengan kenaikan suku bunga di berbagai negara, telah menekan aktivitas manufaktur. Perlambatan sektor industri di pusat manufaktur global seperti Eropa dan China memicu kekhawatiran mengenai prospek permintaan energi dalam jangka panjang.

Proyeksi pasar hingga akhir kuartal III 2026 menunjukkan bahwa harga minyak kemungkinan akan bergerak dalam rentang konsolidasi yang lebar. Minyak mentah jenis Brent diproyeksikan bergerak pada kisaran rata-rata US$ 80 hingga US$ 100 per barel, sementara WTI diperkirakan tertahan di rentang US$ 75 hingga US$ 95 per barel.

Meskipun pasokan melimpah dan permintaan dari sektor pengolahan sedang melemah, penurunan harga minyak dinilai tidak akan terjadi secara ekstrem. Aliansi OPEC+ diyakini akan mengambil langkah strategis dengan memperpanjang kebijakan pemangkasan produksi apabila harga WTI menembus level psikologis di bawah US$ 80 per barel.

Ke depan, pelaku pasar tetap disarankan untuk memantau data persediaan minyak mentah Amerika Serikat serta indikator ekonomi dari China sebagai penentu arah permintaan global. Potensi volatilitas harga masih terbuka lebar jika terjadi gangguan tak terduga pada jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz atau Selat Bab el-Mandeb yang dapat memicu lonjakan harga secara mendadak.