Jakarta – Gelombang startup yang menempatkan penyandang disabilitas sebagai pusat inovasi tampil mencolok dalam SEED Inclusivity Programme Demo Day di Jakarta. Ajang ini menjadi fase kedua programme SEED Inclusivity yang diinisiasi Seedstars dengan dukungan Visa Foundation.
Sebanyak 17 startup dari berbagai negara Asia memamerkan solusi yang mereka kembangkan untuk memperluas akses bagi penyandang disabilitas. Selain menonjolkan sisi teknologi, peserta juga menunjukkan bahwa sektor ini menyimpan peluang bisnis yang besar dan selama ini belum banyak digarap.
Seedstars menyebut program ini hadir untuk menjawab kebutuhan sekitar 690 juta penyandang disabilitas di Asia. Fokusnya tidak hanya pada penciptaan produk yang lebih relevan, tetapi juga pada pembukaan akses pendanaan bagi para pendiri dan usaha rintisan di bidang inklusi.
Tahap awal program memberi sinyal kuat terhadap potensi itu. dari 15 startup peserta sebelumnya,dampaknya diklaim telah menjangkau hampir tiga juta orang. Di saat yang sama, para startup tersebut juga berhasil mengamankan pendanaan lanjutan lebih dari US$12 juta.
Salah satu kisah yang menonjol datang dari Parakerja, platform penempatan kerja untuk penyandang disabilitas yang didirikan Rezki Achyana. Seusai mengikuti program, perusahaan itu mencatat pertumbuhan pendapatan tahunan 42 persen dan menambah jumlah karyawan penuh waktu dari 9 menjadi 16 orang.
Rezki sendiri dikenal sebagai figur muda di sektor teknologi inklusif dan pernah masuk daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2024. Capaian Parakerja menjadi salah satu contoh bagaimana dukungan yang tepat dapat mendorong pertumbuhan usaha rintisan disabilitas secara lebih cepat.
Program lead SEED Inclusivity, Archie Moberly, menilai hasil yang terlihat di Jakarta menguatkan keyakinan penyelenggara sejak awal. Ia mengatakan, ketika hambatan yang membatasi founder penyandang disabilitas dihilangkan, dampaknya bisa langsung terlihat.
“apa yang kami lihat di Jakarta menegaskan sesuatu yang telah kami ketahui sejak memulai program ini. Ketika hambatan antara para founder penyandang disabilitas dan sistem pendukung yang tersedia bagi wirausahawan lainnya dihilangkan, maka hasilnya akan berbicara,” ujarnya.
Dari Indonesia, beberapa startup tampil dengan solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal. PetaNetra mengembangkan navigasi berbasis AR dan AI untuk membantu tunanetra bergerak mandiri di ruang indoor. Silang.id menghadirkan layanan yang menghubungkan komunitas Tuli dengan penerjemah bahasa isyarat secara langsung.
Karla Bionics juga ikut memperkenalkan perangkat bionik dan alat rehabilitasi berbasis riset yang dirancang dengan kebutuhan pengguna sebagai pusat pengembangan. Di luar Indonesia, Bioniks dari Pakistan menawarkan kaki palsu berbasis AI dengan harga terjangkau.
Dari India dan Amerika Serikat, I-Stem memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membuka akses pendidikan dan peluang kerja digital bagi penyandang disabilitas. Beragam solusi itu menegaskan bahwa inklusi kini semakin dipandang sebagai ruang inovasi, bukan sekadar agenda sosial.







