Tutup
EkonomiEnergiNewsTransportasi

Harga BBM Diprediksi Turun Lambat Usai Konflik Iran Mendingin

77
×

Harga BBM Diprediksi Turun Lambat Usai Konflik Iran Mendingin

Sebarkan artikel ini
harga-bensin-terlanjur-naik-imbas-perang,-analis-sebut-turunnya-bisa-bertahun-tahun
Harga Bensin Terlanjur Naik Imbas Perang, Analis Sebut Turunnya Bisa Bertahun-tahun

Jakarta – Harga bahan bakar minyak belum menunjukkan tanda-tanda turun cepat meski ketegangan di Iran mulai mereda. Pasar energi global masih menanggung dampak gangguan pasokan yang sempat terjadi di Selat Hormuz, jalur vital pengangkutan minyak dari kawasan Teluk Persia.

Gangguan di selat tersebut ikut mendorong harga minyak mentah dan bensin dunia. Di amerika Serikat, data AAA mencatat rata-rata harga bensin reguler berada di level US$4,54 per galon atau sekitar Rp77.180 per galon dengan kurs Rp17.000 per dolar AS. Sebelum konflik memanas, harganya masih berada di bawah US$3 per galon atau sekitar Rp51.000.

Kepala analisis perminyakan GasBuddy, Patrick De Haan, menilai pembukaan kembali selat Hormuz bisa memberi ruang bagi penurunan harga BBM dalam waktu dekat.Namun, ia menegaskan proses pemulihannya tidak akan berlangsung singkat.

“Sepertiga pertama penurunan harga mungkin terjadi dalam satu hingga tiga bulan. Sepertiga berikutnya bisa memakan waktu tiga hingga enam bulan, dan harga kemungkinan baru kembali ke level sebelum perang pada awal hingga pertengahan 2027,” kata De Haan, dikutip dari Axios, Jumat, 15 Mei 2026.

Menurut dia, lambatnya perbaikan disebabkan rantai distribusi minyak dari Timur Tengah yang belum sepenuhnya normal. Produksi minyak mentah negara-negara Teluk Persia juga masih perlu dipulihkan setelah sebelumnya terganggu oleh hambatan ekspor.

Pandangan serupa datang dari analis bahan bakar S&P Global Energy, Rob Smith. Ia menilai arus pengiriman energi melalui Selat Hormuz tidak otomatis kembali seperti semula, sekalipun perang benar-benar berakhir.

“Bahkan jika konflik militer benar-benar berakhir dan berlangsung permanen, tetap dibutuhkan waktu beberapa bulan sebelum lalu lintas melalui Selat Hormuz kembali ke tingkat sebelum perang,” ujarnya.

Rystad Energy bahkan memperkirakan skenario pembukaan jalur itu secara bertahap selama 30 hari tergolong optimistis. Perusahaan konsultan energi itu memproyeksikan pemulihan volume pengiriman minyak baru mulai terlihat paling cepat pada Juni 2026.

Selain persoalan pasokan,harga BBM juga masih dipengaruhi stok lama yang dibeli ketika harga minyak dunia berada di puncak. Akibatnya,penurunan harga minyak internasional tidak langsung tercermin di SPBU.

Pola itu kerap disebut “rocket and feathers”, yakni harga BBM naik cepat saat minyak dunia menguat, tetapi turun lebih lambat ketika harga minyak melemah.