Tutup
InvestasiPerbankanPolitik

Firman Soebagyo Mendorong Penguatan Regulasi Guna Mencegah Capital Flight

152
×

Firman Soebagyo Mendorong Penguatan Regulasi Guna Mencegah Capital Flight

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema Hari Kebangkitan Nasional, Strategi Memperkuat Ekonomi di Tengah Bayang-bayang Geopolitik yang digelar Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) bekerja sama dengan Biro Pemberitaan DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Jaka/Karisma
Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema Hari Kebangkitan Nasional, Strategi Memperkuat Ekonomi di Tengah Bayang-bayang Geopolitik yang digelar Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) bekerja sama dengan Biro Pemberitaan DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Jaka/Karisma

Jakarta – Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo meminta pemerintah lebih berhati-hati dalam merumuskan kebijakan ekonomi nasional. Regulasi yang tidak matang berisiko memicu perpindahan modal atau capital flight ke luar negeri.

Peringatan itu disampaikan Firman dalam forum Dialektika Demokrasi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026). Ia menekankan bahwa pembangunan ekonomi nasional tidak bisa hanya mengandalkan postur APBN semata.

“Negara ini tidak bisa dibangun hanya menggunakan postur APBN yang ada. Oleh karena itu, keberadaan private sector dan investasi menjadi bagian penting dalam tata kelola ekonomi nasional,” ujar Firman.

Politisi Fraksi Golkar ini juga menyoroti pentingnya peran Kadin sebagai mitra strategis pemerintah. Menurutnya, masalah utama di lapangan bukanlah pada pelaku usaha, melainkan pada kelemahan sistem pengawasan yang harus dibenahi.

Terkait wacana kebijakan ekspor terpusat atau one gate policy, Firman menilai niat pemerintah untuk memperketat kontrol harus dibarengi regulasi yang kuat. Jika tidak, ia khawatir kebijakan tersebut justru merusak iklim investasi dan memicu kepergian investor karena ketidakpastian aturan.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan keberhasilan Chile yang memiliki tata kelola lebih sederhana, serta kegagalan Venezuela akibat persiapan regulasi yang buruk. Firman menegaskan, sektor padat karya, perkebunan sawit, hingga minyak dan gas bumi melibatkan investasi besar yang terhubung dengan perbankan.

“Jangan sampai kebijakan ini jika tidak disiapkan regulasinya dengan kuat justru menimbulkan capital flight,” tegasnya.

Secara khusus, ia menyoroti sektor kelapa sawit yang harus dijaga keberlanjutannya agar tidak kalah bersaing dengan Malaysia atau negara-negara Afrika. Firman mengingatkan bahwa kelalaian dalam regulasi akan menguntungkan negara kompetitor.

“Kalau tidak hati-hati, justru negara lain yang akan diuntungkan. Sawit bisa saja bergeser ke Malaysia atau bahkan Afrika yang sekarang mulai belajar mengembangkan sawit dari Indonesia,” pungkasnya.