Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada April 2026. Capaian sebesar US$89,1 juta ini sekaligus memperpanjang rekor surplus bulanan menjadi 72 kali berturut-turut sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan surplus tersebut diraih berkat nilai ekspor yang mencapai US$25,30 miliar, sedikit lebih tinggi dibandingkan nilai impor senilai US$25,21 miliar. Meski tetap surplus, angka tersebut mengalami penurunan tajam dibandingkan Maret 2026 yang menembus US$3,32 miliar.
Penyusutan ini terjadi akibat lonjakan impor yang mencapai 22,49 persen, sementara pertumbuhan ekspor hanya berada di angka 21,98 persen. Secara kumulatif dari Januari hingga April 2026, total surplus neraca perdagangan Indonesia berada di posisi US$5,64 miliar.
“Hingga bulan April 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$5,64 miliar, ditopang oleh surplus komoditas non-migas US$14,16 miliar. Sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$8,52 miliar,” ujar Pudji dalam telekonferensi pers, Selasa (2/6/2026).
Pudji memaparkan, nilai ekspor kumulatif selama empat bulan pertama tahun ini mencapai US$92,15 miliar atau naik 5,48 persen. Kenaikan ini didorong oleh sektor industri pengolahan yang tumbuh 9,78 persen menjadi US$75,57 miliar.
Di sisi lain, total nilai impor kumulatif hingga April 2026 menanjak 13,40 persen menjadi US$86,51 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan impor terjadi baik di sektor non-migas sebesar 12,70 persen maupun sektor migas yang melonjak 17,58 persen.
Kinerja positif perdagangan non-migas masih sangat bergantung pada lima komoditas utama. Komoditas tersebut meliputi lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$11,71 miliar, bahan bakar mineral US$8,34 miliar, serta besi dan baja senilai US$5,71 miliar.
Selain itu, nikel dan barang turunannya menyumbang US$4,26 miliar, diikuti oleh ekspor alas kaki sebesar US$2,14 miliar. Di luar sektor perdagangan, BPS juga menyoroti kenaikan harga bensin dan tiket pesawat sebagai pendorong utama inflasi pada Mei 2026.







