Otomotif

Rupiah Melemah, Kinerja Emiten Otomotif Terancam Melambat

100
×

Rupiah Melemah, Kinerja Emiten Otomotif Terancam Melambat

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan. Mengutip data *Bloomberg* pada Kamis (4/6/2026), mata uang Garuda di pasar spot melemah 0,46% ke level Rp 18.049 per dolar AS. Jika dibandingkan dengan posisi awal tahun di level Rp 16.725, rupiah tercatat telah merosot 7,91%.

Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap kinerja emiten sektor otomotif yang masih sangat bergantung pada impor komponen serta bahan baku. Pelemahan rupiah berpotensi mengerek biaya produksi sekaligus menekan marjin keuntungan, terutama jika daya beli masyarakat belum mampu merespons kenaikan harga kendaraan.

*Head of Corporate Communications* Astra, Windy Riswantyo, mengakui bahwa fluktuasi nilai tukar memberikan tekanan pada daya beli dan penjualan. Namun, ia menegaskan bahwa Astra memiliki portofolio bisnis yang terdiversifikasi dengan baik. Diversifikasi ini memberikan *natural hedge* karena perusahaan memiliki eksposur pendapatan dalam Rupiah maupun dolar AS.

“Portofolio kami yang terdiversifikasi, termasuk adanya bisnis ekspor, membantu mengimbangi dampak volatilitas nilai tukar. Kami juga menerapkan pendekatan konservatif dengan strategi lindung nilai serta manajemen risiko keuangan yang disiplin,” ujar Windy.

Senada dengan hal tersebut, analis Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, menilai dampak pelemahan rupiah terhadap emiten otomotif akan bervariasi. Menurutnya, emiten dengan basis produksi lokal yang kuat akan jauh lebih resilien. Khusus untuk PT Astra International Tbk (ASII), Adrian menilai perusahaan tersebut cukup tangguh berkat diversifikasi bisnisnya.

“Kami merekomendasikan *buy* untuk saham ASII dengan target harga Rp 7.100 untuk jangka panjang,” jelas Adrian.

Pendapat serupa disampaikan pengamat pasar yang menyebut emiten seperti IMAS dan ASII memang rentan terhadap ketergantungan impor. Meski demikian, ASII dinilai paling defensif berkat skala bisnis yang masif dan neraca keuangan yang kokoh. Jika pemulihan pasar terjadi dan rupiah menguat, harga saham ASII diproyeksikan berada di kisaran Rp 5.500–Rp 5.800 dalam jangka pendek.

Di sisi lain, tidak semua emiten otomotif terdampak negatif. PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) justru diuntungkan oleh pelemahan rupiah. Pasalnya, sekitar 65% penjualan perusahaan berasal dari pasar ekspor yang menggunakan denominasi dolar AS.

Wakil Direktur Utama SMSM, Ang Andri Pribadi, menjelaskan bahwa struktur pendapatan ekspor yang tinggi mampu mengimbangi biaya bahan baku impor yang juga menggunakan dolar AS. Kondisi ini menciptakan *natural hedging* yang efektif.

“Hingga saat ini, perusahaan tidak melihat dampak negatif signifikan terhadap operasional. Kami juga mengelola risiko melalui efisiensi operasional dan memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan harga jual secara selektif jika memang diperlukan,” pungkas Andri.