Jakarta – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) kini memfokuskan strategi bisnis jangka panjang pada pengembangan ekosistem digital dan transisi energi hijau. Kebijakan ini dipaparkan perusahaan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Senin (9/6).
Meski pendapatan konsolidasi pada 2025 tercatat USD 2,791 miliar atau terkoreksi 7,5 persen akibat normalisasi harga batu bara global, perseroan tetap menjaga performa yang stabil. Ketahanan finansial ini didorong oleh pertumbuhan pesat di luar sektor pertambangan.
Sektor infrastruktur digital dan teknologi menjadi penopang utama dengan peningkatan kontribusi dari 4,8 persen pada 2024 menjadi 7,6 persen di tahun 2025. Pendapatan di lini bisnis ini bahkan melonjak hingga 47 persen secara tahunan (YoY).
Lonjakan kinerja digital didukung oleh ekspansi jaringan yang agresif. Tercatat jumlah homepass naik 64,1 persen menjadi 10,5 juta, sementara basis pelanggan tumbuh 102,9 persen menjadi 1,9 juta pengguna.
Di sisi lain, perusahaan juga meresmikan merger antara MyRepublic dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk (MoraRepublic) per 22 April 2026. Entitas baru ini kini mengelola jaringan fiber optik sepanjang lebih dari 116.000 km.
Untuk melengkapi ekosistem digital, DSSA sedang merampungkan pembangunan Metro Data Center (SMX01) di CBD Jakarta berkapasitas 18 MW. Proyek hasil kolaborasi dengan KIRA SG One Pte. Ltd. ini ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal keempat 2026.
Terkait sektor pertambangan, DSSA tetap mencatatkan operasional yang solid dengan volume produksi batu bara mencapai 57,2 juta ton atau naik 7,7 persen YoY. Volume penjualan pun turut meningkat sebesar 4,4 persen menjadi 56,7 juta ton.
Komitmen transformasi hijau diwujudkan melalui elektrifikasi alat tambang di PT Borneo Indobara. Sebanyak 176 unit kendaraan listrik dan hybrid sudah dioperasikan hingga Mei 2026 guna mendukung target emisi net zero pada 2028-2029.
Langkah strategis lainnya meliputi peresmian pabrik modul surya berkapasitas 1 GW per tahun di Kendal. Perusahaan juga menjalin kemitraan strategis dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia untuk mengembangkan potensi panas bumi sebesar 440 MW di enam wilayah.
Presiden Direktur DSSA, Krisnan Cahya, menegaskan bahwa perusahaan akan terus mempercepat digitalisasi operasional dan penguatan investasi di sektor energi terbarukan. “Langkah transformatif ini menjadi pilar utama Perseroan dalam mendukung pertumbuhan berkelanjutan di masa depan,” ungkapnya.







