BisnisPerbankan

Kenaikan Suku Bunga BI Tekan Kemampuan Bayar Debitur Dunia Usaha

114
×

Kenaikan Suku Bunga BI Tekan Kemampuan Bayar Debitur Dunia Usaha

Sebarkan artikel ini
risiko-kredit-macet-mengintai-akibat-suku-bunga-tinggi
Risiko Kredit Macet Mengintai Akibat Suku Bunga Tinggi

Jakarta – Keputusan Bank Indonesia mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen pada Selasa (9/6) memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha. Langkah ini diambil otoritas moneter sebagai upaya menstabilkan nilai tukar rupiah yang sempat tertekan hingga menembus level Rp18 ribu per dolar AS.

Kenaikan suku bunga ini diprediksi bakal membatasi ruang gerak pembiayaan di sektor riil sekaligus menekan kemampuan debitur dalam melunasi cicilan. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai risiko kredit macet kini membayangi meski dampaknya belum terasa secara instan.

“Debitur dengan kredit berbunga mengambang biasanya merasakan dampak paling cepat karena kenaikan bunga langsung mengurangi arus kas mereka,” ujar Yusuf, Jumat (12/6).

Menurut Yusuf, kenaikan biaya dana di perbankan akan memperberat beban cicilan nasabah. Ia memprediksi debitur kemungkinan akan menguras tabungan terlebih dahulu sebelum akhirnya berisiko mengalami gagal bayar dalam beberapa bulan ke depan.

Sektor properti, konstruksi, serta UMKM dengan modal terbatas dinilai menjadi kelompok paling rentan terhadap guncangan ini. Kredit konsumtif yang tidak ditopang jaminan aset fisik, seperti kartu kredit, juga menjadi perhatian khusus.

Sementara itu, Analis Senior ISEAI, Ronny P Sasmita, menyebut kenaikan suku bunga membuat dunia usaha lebih menahan diri untuk melakukan ekspansi. Langkah ini diambil perusahaan demi menjaga likuiditas di tengah membengkaknya biaya modal.

“Dunia usaha menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi, sementara rumah tangga juga cenderung mengurangi konsumsi berbasis kredit,” jelas Ronny.

Ronny mengingatkan bahwa kebijakan ini membawa risiko perlambatan ekonomi jika suku bunga tinggi dipertahankan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, perbankan diimbau memperkuat sistem deteksi dini bagi debitur yang mulai kesulitan membayar cicilannya.

Sebagai langkah mitigasi, perbankan disarankan melakukan restrukturisasi kredit secara selektif, seperti penyesuaian jadwal pembayaran atau perpanjangan tenor. Selain itu, peningkatan pencadangan risiko dan pendampingan manajemen keuangan bagi UMKM menjadi langkah krusial.

Meski demikian, Ronny memastikan fundamental perbankan tanah air masih cukup tangguh menghadapi situasi ini. Keseimbangan antara menjaga stabilitas nilai tukar dan memacu pertumbuhan ekonomi produktif tetap menjadi tantangan utama ke depan.