Jakarta – Aktivitas bermain layang-layang di sekitar jalur kereta cepat Whoosh menjadi ancaman serius bagi operasional perjalanan. PT KCIC mencatat temuan sebanyak 452 layang-layang beserta benangnya yang masuk ke area jalur rel sejak tahun 2024 hingga Mei 2026.
Manager Corporate Communication KCIC, Emir Monti, memaparkan lonjakan temuan yang cukup signifikan. Sebanyak 25 unit ditemukan pada 2024, kemudian melonjak menjadi 317 unit pada 2025, dan tercatat sebanyak 110 unit selama periode Januari hingga Mei 2026.
Emir menyebut wilayah Padalarang, Cimahi, dan Bandung sebagai titik yang paling sering terpapar gangguan ini. Menurutnya, layang-layang yang putus dan tersangkut di jaringan listrik aliran atas atau Overhead Catenary System (OCS) sangat berbahaya.
“Jaringan listrik bertegangan tinggi tersebut berisiko rusak jika terpapar benang atau kerangka layang-layang. Selain itu, kondisi ini juga bisa merusak pantograf kereta,” ungkap Emir, Jumat (12/6).
Ia menambahkan, dampak dari gangguan tersebut tidak hanya mengancam keselamatan perjalanan, tetapi juga memicu keterlambatan operasional yang merugikan ribuan penumpang. Seringkali, perjalanan Whoosh terpaksa dihentikan mendadak saat benang layang-layang yang terbawa angin kencang masuk ke area terlarang.
Meski warga umumnya bermain di jarak sekitar 2 kilometer dari jalur, benang yang menjuntai tetap berisiko tinggi. Oleh karena itu, KCIC mengimbau masyarakat agar tidak bermain layang-layang dalam radius minimal 3 kilometer dari sisi kanan dan kiri jalur operasional demi menjaga keselamatan serta kelancaran transportasi massal tersebut.







