Investasi

NAB Reksadana Turun ke Rp652,9 Triliun, HPAM Ungkap Penyebab Utamanya

54
×

NAB Reksadana Turun ke Rp652,9 Triliun, HPAM Ungkap Penyebab Utamanya

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Industri reksadana nasional mencatatkan penurunan Nilai Aktiva Bersih (NAB) sebesar 4,79 persen secara bulanan pada Juni 2026. Berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total NAB industri menyusut menjadi Rp652,9 triliun.

Penyusutan nilai tersebut dipicu oleh aksi net redemption atau penarikan dana bersih oleh investor yang mencapai Rp23,75 triliun. Kondisi ini mencerminkan dinamika arus modal yang terjadi di pasar keuangan sepanjang bulan berjalan.

Senior Vice President sekaligus Head of Retail, Product Research & Distribution Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan, menyatakan bahwa penurunan NAB lebih didominasi oleh faktor teknis. Koreksi nilai aset berdasarkan harga pasar atau mark-to-market menjadi pemicu utama di samping aktivitas rebalancing portofolio oleh investor.

Reza menegaskan bahwa penurunan ini bukan merupakan indikasi kepanikan massal di pasar. Langkah penyesuaian portofolio dinilai sebagai respons wajar investor dalam menyikapi pergerakan aset dasar.

Di sisi lain, jumlah investor pasar modal justru mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 42,22 persen sejak awal tahun atau year to date (YTD). Kenaikan ini didominasi oleh investor ritel dengan nilai investasi yang relatif kecil.

Meskipun jumlah investor melonjak, kontribusi dana dari segmen ritel terhadap total dana kelolaan industri saat ini masih terbatas. Pertumbuhan jumlah investor menunjukkan minat masyarakat yang tetap tinggi terhadap instrumen pasar modal di tengah fluktuasi pasar.

Memasuki semester kedua tahun 2026, HPAM memproyeksikan kinerja reksadana akan membaik seiring dengan ekspektasi stabilitas makroekonomi domestik. Perusahaan mengandalkan pendekatan multidisiplin yang dikombinasikan dengan strategi contrarian value.

Strategi ini bertujuan untuk mengidentifikasi aset-aset berkualitas yang saat ini diperdagangkan di bawah nilai wajarnya. Langkah tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan imbal hasil bagi para investor di tengah ketidakpastian pasar.

Bagi investor dengan profil risiko konservatif, reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap dinilai sebagai pilihan yang lebih aman. Produk-produk tersebut menawarkan tingkat risiko yang lebih terukur dalam menghadapi volatilitas pasar jangka pendek.

Sementara itu, investor dengan cakrawala investasi jangka menengah hingga panjang disarankan memanfaatkan momentum koreksi pasar saat ini. Strategi akumulasi bertahap pada reksadana saham maupun reksadana campuran dianggap sebagai langkah yang tepat.

HPAM juga menekankan pentingnya strategi investasi bertahap atau staggered investment bagi pelaku pasar. Pendekatan ini dinilai mampu membuat portofolio tetap adaptif terhadap perubahan siklus pasar yang dinamis.

Terkait kinerja internal, HPAM menyatakan bahwa fluktuasi dana kelolaan merupakan konsekuensi logis dari pergerakan pasar. Perusahaan berkomitmen untuk terus menjaga kedisiplinan dalam pengelolaan portofolio investasi.

Fokus strategis ke depan akan dipusatkan pada kualitas portofolio dan diversifikasi aset. Selain itu, manajemen risiko yang terukur tetap menjadi prioritas utama guna menjaga stabilitas kinerja investasi di tengah tantangan ekonomi.