Bursa Saham

Pasar Saham AS Melemah Akibat Pernyataan Trump Terkait Iran

42
×

Pasar Saham AS Melemah Akibat Pernyataan Trump Terkait Iran

Sebarkan artikel ini

NEW YORK – Bursa saham Wall Street dibuka melemah tajam pada perdagangan Rabu (8/7/2026) setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik dengan Iran telah berakhir. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran investor akan eskalasi militer yang lebih luas di Timur Tengah.

Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 514,42 poin atau 0,97% ke level 52.410,73. Indeks S&P 500 terkoreksi 34,32 poin atau 0,46% menjadi 7.469,53, sementara indeks Nasdaq Composite melemah 78,12 poin atau 0,31% ke posisi 25.739,43.

Eskalasi geopolitik ini mengancam keberlanjutan reli pasar saham yang sepanjang tahun 2026 telah mencatatkan kenaikan sekitar 10%. Ketegangan yang kembali memanas turut mendorong harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 5%.

Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran baru mengenai inflasi global yang dapat memperumit langkah kebijakan moneter Federal Reserve. Para pelaku pasar kini menantikan risalah rapat kebijakan The Fed bulan Juni untuk mendapatkan sinyal terkait arah suku bunga ke depan.

Dalam KTT NATO, Trump menegaskan bahwa Washington tidak berniat terlibat lebih jauh, namun secara bersamaan memberi peringatan mengenai potensi serangan tambahan. Pernyataan ini menciptakan ketidakpastian tinggi di pasar keuangan global setelah sebelumnya sempat muncul optimisme mengenai diplomasi perdamaian.

Analis pasar dari Ebury, Matthew Ryan, menyatakan bahwa pasar saat ini tengah menguji apakah perkembangan ini merupakan kegagalan total negosiasi atau sekadar kemunduran sementara. Ketidakpastian tersebut tercermin dari Indeks Volatilitas CBOE yang menyentuh level tertinggi dalam lebih dari sepekan terakhir.

Di tengah sentimen negatif, saham sektor energi dan teknologi informasi menjadi pengecualian di indeks S&P 500. Penguatan saham Broadcom sebesar 3% memberikan sedikit penopang bagi sektor chip setelah Apple mengumumkan rencana belanja senilai US$ 30 miliar untuk pasokan komponen.

Kenaikan Broadcom membantu membatasi kerugian lebih dalam pada indeks Nasdaq yang sempat tertekan. Indeks Philadelphia SE Semiconductor secara keseluruhan mencatatkan kenaikan sebesar 1,4% pada sesi perdagangan tersebut.

Sebaliknya, saham sektor perjalanan dan maskapai penerbangan mengalami tekanan jual akibat kekhawatiran terhadap biaya bahan bakar yang lebih tinggi. United Airlines turun 3,2%, Delta Air Lines melemah 1,9%, dan Southwest Airlines terkoreksi 1,1%.

Operator kapal pesiar juga terkena dampak negatif, dengan saham Carnival turun 3% dan Norwegian Cruise Line melemah 1,8%. Sembilan dari 11 sektor utama di indeks S&P 500 tercatat berada di zona merah.

IMF turut memperburuk suasana pasar dengan kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi 3,0%. Lembaga keuangan internasional tersebut memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah terus menjadi risiko utama bagi stabilitas ekonomi dunia.

Pasar saat ini memperkirakan kemungkinan adanya setidaknya satu kali kenaikan suku bunga oleh The Fed hingga akhir tahun 2026. Risalah rapat The Fed yang akan dirilis diharapkan mampu memberikan gambaran lebih jelas mengenai respons bank sentral terhadap inflasi dan risiko pertumbuhan.