Valuta

Rupiah Melemah ke Rp 18.128 Akibat Tekanan Sentimen Global dan Domestik

23
×

Rupiah Melemah ke Rp 18.128 Akibat Tekanan Sentimen Global dan Domestik

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali tertekan hebat hingga penutupan perdagangan Kamis (9/7/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 0,63% ke level Rp 18.128 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya di angka Rp 18.014.

Pelemahan serupa juga tercatat pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Kurs acuan BI tersebut terkoreksi 0,47% ke posisi Rp 18.090 per dolar AS, setelah sebelumnya berada di level Rp 18.005.

Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari domestik maupun eksternal. Ketidakpastian global yang masih tinggi membuat minat investor terhadap aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia, cenderung menurun.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semester I-2026 yang menjadi perhatian serius pelaku pasar. APBN tahun ini difokuskan pada prioritas nasional seperti ketahanan pangan dan energi, program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga penguatan sistem pertahanan.

Selain itu, sentimen negatif datang dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang telah terjadi selama dua bulan berturut-turut. Bank Indonesia melaporkan IKK Juni 2026 berada di level 117,8, turun dari 120,9 pada Mei 2026 dan jauh di bawah posisi Januari 2026 sebesar 127,0.

Penurunan indeks ini mencerminkan pelemahan pada hampir seluruh komponen penyusun ekonomi domestik menjelang tutup semester pertama. Meskipun masih berada di zona optimistis atau di atas ambang batas 100, tren penurunan ini memberikan sinyal kewaspadaan bagi investor.

Dari sisi eksternal, tensi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas dan memicu kekhawatiran pasar modal global. Ancaman dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait potensi serangan ke Iran mengancam stabilitas jalur distribusi energi di Selat Hormuz.

Risalah rapat Federal Reserve (The Fed) periode Juni turut memperparah tekanan terhadap mata uang global. Pejabat bank sentral AS masih menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi yang bertahan tinggi, sehingga membuka peluang suku bunga AS tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Kebijakan moneter yang ketat di Amerika Serikat secara otomatis menopang penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia. Hal ini membuat posisi rupiah semakin rentan di tengah kondisi makroekonomi yang menantang.

Pelaku pasar diprediksi akan terus memantau perkembangan konflik geopolitik serta arah kebijakan moneter The Fed pada perdagangan Jumat (10/7). Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dalam rentang Rp 18.120 hingga Rp 18.180 per dolar AS.

Meski tertekan, keyakinan konsumen yang masih berada di zona optimistis diharapkan mampu menjadi bantalan bagi rupiah agar tidak melemah lebih dalam. Stabilitas domestik dan kebijakan moneter yang prudent tetap menjadi kunci utama dalam menjaga nilai tukar di tengah badai ketidakpastian global.

Rupiah Loyo Lawan Dolar Amerika Serikat Pada Perdagangan Waktu Waktu Pagi Hal ini
Investasi

Hasil Rapat BI hari ini akan dirilis, mempengaruhi nilai tukar rupiah. Saat ini, rupiah melemah terhadap dolar AS sebesar 0,1% menjadi Rp15.345 per USD.