Ekonomi

Vietnam dan Filipina Masuk Kategori Negara Berpendapatan Menengah Atas

68
×

Vietnam dan Filipina Masuk Kategori Negara Berpendapatan Menengah Atas

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Bank Dunia resmi menetapkan Vietnam dan Filipina sebagai negara berpendapatan menengah atas pada awal Juli 2026. Kenaikan status ini menandai pergeseran ekonomi kedua negara tersebut dari kategori pendapatan menengah ke bawah.

Langkah ini membuat Vietnam dan Filipina kini bergabung dengan Malaysia, Thailand, dan Indonesia dalam kelompok ekonomi menengah atas. Klasifikasi tersebut didasarkan pada perhitungan Pendapatan Nasional Bruto (GNI) per kapita tahun 2025.

Berdasarkan standar terbaru Bank Dunia, negara dikategorikan sebagai berpendapatan menengah atas jika memiliki GNI per kapita dalam rentang US$4.636 hingga US$14.375. Ambang batas ini menjadi tolok ukur fundamental bagi pertumbuhan ekonomi global.

Vietnam mencatatkan pertumbuhan GNI sebesar 10,7 persen, yakni dari US$4.490 menjadi US$4.970 per kapita pada 2025. Kinerja ekspor menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

Bank Dunia mencatat lonjakan ekspor Vietnam mencapai lebih dari 15 persen selama periode 2024 hingga 2025. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Vietnam juga konsisten berada di angka 7 hingga 8 persen.

Dalam lima tahun terakhir, Vietnam berhasil mempertahankan rata-rata pertumbuhan GNI sebesar 10 persen per tahun. Pencapaian ini diakui sebagai salah satu yang paling signifikan di kawasan Asia Tenggara.

Filipina turut mencatatkan kenaikan GNI sebesar 8,5 persen secara tahunan (yoy). GNI Filipina meningkat dari US$4.470 menjadi US$4.850 per kapita pada 2025.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh ekspansi di seluruh sektor industri domestik. Filipina tercatat mampu menjaga rata-rata pertumbuhan PDB sebesar 5,8 persen selama lima tahun terakhir.

Ekonom Indef, M Rizal Taufikurahman, menilai perubahan status ini meningkatkan daya saing ekonomi di Asia Tenggara. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang strategis bagi Indonesia dalam menarik investasi asing.

Persaingan antarnegara di kawasan ASEAN kini bergeser dari sekadar mengandalkan upah murah. Fokus utama kini beralih pada produktivitas, akselerasi industrialisasi, ekspor, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Indonesia sendiri mencatatkan GNI sebesar US$5.120 per kapita pada 2025 atau tumbuh 4,1 persen secara tahunan. Capaian ini menegaskan posisi Indonesia yang telah bertahan di kategori menengah atas sejak 2023.

Perlu diketahui, Indonesia pertama kali menyentuh klasifikasi ini pada tahun 2019. Namun, tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19 sempat membuat Indonesia turun kelas pada periode 2020 hingga 2022.

Keberhasilan Vietnam dan Filipina membuka peluang kolaborasi basis produksi terintegrasi di Asia Tenggara. Integrasi kawasan diharapkan mampu menciptakan ekosistem industri yang lebih efisien dan kompetitif di pasar global.

Kenaikan status ini mencerminkan dinamika ekonomi regional yang semakin matang. Seluruh negara ASEAN kini dituntut untuk terus melakukan inovasi guna mempertahankan daya saing di tengah tantangan ekonomi global yang fluktuatif.