Valuta

Pasar merespons negatif kasus korupsi, rupiah melemah ke Rp 18.109 per dolar AS

67
×

Pasar merespons negatif kasus korupsi, rupiah melemah ke Rp 18.109 per dolar AS

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan pada perdagangan Senin (13/7/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah 0,24% di pasar spot ke level Rp 18.109 per dolar AS.

Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia turut mengonfirmasi pelemahan tersebut. Rupiah terkoreksi sebesar 0,34% ke posisi Rp 18.131 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya.

Sentimen negatif dari dalam negeri menjadi pemicu utama fluktuasi nilai tukar ini. Pasar merespons kekhawatiran terkait isu hukum yang menyeret mantan pejabat tinggi di lingkungan Kejaksaan Agung.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa integritas sistem hukum memiliki korelasi langsung dengan laju pertumbuhan ekonomi nasional. Ketidakpastian hukum sering kali memicu keraguan bagi para pelaku usaha.

Ibrahim menambahkan, lingkungan bisnis yang tidak kondusif akibat lemahnya penegakan hukum akan menghambat efisiensi ekonomi. Kondisi ini membuat target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% menjadi tantangan yang semakin berat untuk direalisasikan.

Secara faktual, negara dengan sistem hukum yang buruk cenderung mengalami stagnasi dalam kinerja investasi. Investor cenderung menahan diri untuk masuk ke pasar ketika risiko hukum dianggap terlalu tinggi.

Dampak dari isu hukum ini mencakup berbagai aspek krusial bagi stabilitas ekonomi. Perilaku ekonomi, efisiensi pasar, hingga tingkat inovasi domestik diprediksi akan terpengaruh secara signifikan oleh situasi tersebut.

Sentimen eksternal juga turut membayangi pergerakan mata uang di Asia. Sebagian besar mata uang kawasan regional terpantau kompak melemah seiring dengan sentimen pasar global.

Untuk perdagangan Selasa (14/7/2026), pergerakan rupiah diprediksi akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik. Eskalasi ketegangan di Timur Tengah menjadi faktor penentu yang terus dipantau oleh para pelaku pasar.

Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak secara fluktuatif sepanjang hari esok. Mata uang domestik diperkirakan masih berada dalam tekanan dengan rentang pergerakan di level Rp 18.100 hingga Rp 18.150 per dolar AS.

Stabilitas rupiah ke depan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah merespons sentimen domestik tersebut. Kepercayaan pasar menjadi variabel kunci dalam menjaga nilai tukar agar tidak semakin terperosok lebih dalam.

Upaya menjaga kepastian hukum dipandang sebagai langkah krusial untuk memperbaiki iklim investasi. Tanpa perbaikan pada sisi penegakan hukum, tantangan untuk mencapai target makro ekonomi nasional akan tetap menjadi beban bagi nilai tukar rupiah.