JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan tren pelemahan dalam sepekan terakhir akibat kombinasi sentimen domestik dan global. Meski sempat menguat tipis di akhir pekan, mata uang Garuda masih berada dalam tekanan pasar yang cukup signifikan.
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (10/7), rupiah di pasar spot memang menguat 0,35% secara harian ke level Rp 18.065 per dolar AS. Namun, secara akumulasi mingguan, rupiah terkoreksi sebesar 0,56% dibandingkan posisi pada Jumat (3/7) yang berada di level Rp 17.963 per dolar AS.
Tren serupa juga terekam dalam data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Rupiah tercatat melemah 0,60% dalam sepekan terakhir, dari posisi Rp 17.960 per dolar AS menjadi Rp 18.069 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang domestik dipicu oleh laporan Fitch Ratings yang menyoroti kerentanan ekonomi makro Indonesia. Lembaga pemeringkat tersebut menyoroti penurunan cadangan devisa, arus modal keluar yang masif, serta memburuknya tata kelola ekonomi nasional.
Fitch Ratings memperingatkan bahwa tekanan yang berkepanjangan dapat meningkatkan beban utang dan biaya pinjaman pemerintah. Risiko ini berpotensi memicu penurunan peringkat utang atau sovereign rating Indonesia yang saat ini berada di level BBB dengan prospek negatif.
Sentimen negatif dari dalam negeri juga diperburuk oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai neraca perdagangan. Indonesia mencatatkan defisit sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026, yang sekaligus mengakhiri tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut.
Dari sisi eksternal, eskalasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu kepanikan pasar. Ancaman serangan baru dari Presiden AS Donald Trump terkait akses Selat Hormuz meningkatkan ketidakpastian global dan memicu permintaan terhadap aset aman atau safe haven.
Risalah rapat The Fed bulan Juni turut menambah tekanan bagi pasar keuangan. Para pembuat kebijakan menunjukkan kekhawatiran mendalam terhadap inflasi yang kaku, sehingga memicu spekulasi mengenai potensi kenaikan suku bunga lanjutan di akhir tahun.
Analis mata uang memproyeksikan pergerakan rupiah ke depan sangat bergantung pada data inflasi inti (Core CPI) Amerika Serikat. Jika inflasi AS melampaui ekspektasi, dolar AS berpotensi menguat lebih lanjut dan menekan posisi rupiah.
Sebaliknya, peluang penguatan rupiah terbuka jika data inflasi AS lebih rendah dari perkiraan. Kondisi ini dapat memberi ruang bagi mata uang domestik untuk kembali stabil di tengah ketidakpastian global.
Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan langkah stabilisasi untuk meredam volatilitas. Cadangan devisa yang memadai dianggap menjadi bantalan penting untuk menjaga nilai tukar dari gejolak pasar keuangan global.
Dalam jangka pendek, arus modal asing akan menjadi indikator utama penentu arah pergerakan mata uang. Para analis memprediksi rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.870 hingga Rp 18.300 per dolar AS pada pekan mendatang.






