JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Jumat (10/7/2026). Mata uang Garuda berhasil mencatatkan apresiasi sebesar 0,35% ke level Rp 18.065 per dolar AS di pasar spot.
Meski mencatatkan penguatan harian, posisi rupiah sepanjang pekan ini masih berada dalam tren negatif. Rupiah tercatat melemah 0,56% dibandingkan penutupan perdagangan Jumat pekan sebelumnya di angka Rp 17.963 per dolar AS.
Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia turut mengonfirmasi tren serupa dengan penguatan harian sebesar 0,11%. Kurs acuan BI menetapkan rupiah berada di posisi Rp 18.069 per dolar AS pada penutupan akhir pekan ini.
Secara akumulatif dalam satu pekan terakhir, nilai tukar rupiah berdasarkan kurs Jisdor melemah 0,60%. Posisi ini turun dari level Rp 17.960 per dolar AS yang tercatat pada Jumat (3/7/2026).
Penguatan rupiah pada penutupan Jumat didorong oleh perbaikan sentimen risiko di pasar global. Kondisi ini memberikan ruang bagi mata uang di kawasan Asia untuk melakukan koreksi teknikal terhadap dolar AS.
Sentimen positif pasar dipicu oleh munculnya harapan baru terkait kelanjutan pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan tersebut sempat meredakan kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi global sementara waktu.
Namun, para analis memperingatkan bahwa apresiasi rupiah saat ini bersifat sementara dan rentan terhadap pembalikan arah. Risiko geopolitik dinilai masih menjadi bayang-bayang utama yang menghambat penguatan mata uang negara berkembang.
Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman baru terhadap Iran. Pihak Iran merespons ancaman tersebut dengan pernyataan serupa, yang kembali meningkatkan risiko konflik terbuka.
Eskalasi konflik geopolitik cenderung mendorong investor memindahkan portofolio mereka ke aset safe haven. Dolar AS secara historis menjadi pilihan utama investor saat situasi keamanan global mengalami ketidakpastian.
Kondisi tersebut diprediksi akan kembali memberikan tekanan jual pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, pada awal pekan depan. Permintaan terhadap dolar AS berpotensi meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan aset pengaman.
Untuk perdagangan Senin (13/7/2026), pergerakan rupiah diprediksi akan berada dalam rentang yang cukup sempit. Nilai tukar diperkirakan bergerak pada kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.100 per dolar AS.
Pelaku pasar saat ini memantau secara ketat perkembangan diplomatik antara Washington dan Teheran sebagai penentu arah pasar valas. Ketidakpastian politik internasional menjadi variabel krusial yang menentukan volatilitas nilai tukar dalam jangka pendek.
Stabilitas rupiah di masa mendatang sangat bergantung pada kemampuan pasar dalam menyerap sentimen eksternal tersebut. Fokus investor tetap tertuju pada bagaimana eskalasi ini akan memengaruhi kebijakan moneter dan arus modal masuk ke pasar keuangan domestik.






