Emas

Harga Emas Naik 1,2% Dipicu Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan The Fed

84
×

Harga Emas Naik 1,2% Dipicu Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan The Fed

Sebarkan artikel ini
Batangan emas murni dengan latar belakang grafik pasar keuangan yang menunjukkan tren kenaikan harga
Harga emas dunia naik 1,2% dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

NEW YORK – Harga emas dunia mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 1,2% pada perdagangan Selasa (21/7/2026), didorong oleh sentimen investor terhadap eskalasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Logam mulia ini diperdagangkan pada level US$ 4.054,24 per ons troi pada pukul 12.29 WIB.

Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus turut menguat 1,1% ke posisi US$ 4.059,10 per ons troi. Kenaikan ini terjadi di tengah upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi inflasi global dan kebijakan moneter The Fed.

Ilya Spivak, Kepala Makro Global Tastylive, menilai emas saat ini tengah membangun pijakan kuat di kisaran harga US$ 4.000 per ons. Ia memproyeksikan logam mulia tersebut akan melanjutkan tren penguatan setelah berhasil menemukan titik dasar yang stabil.

Pasar energi menunjukkan reaksi beragam menyusul laporan adanya proposal gencatan senjata selama 10 hari antara AS dan Iran. Meski harga minyak sempat melemah, kekhawatiran pelaku pasar tetap tinggi akibat ancaman blokade di Selat Hormuz.

Risiko geopolitik di Timur Tengah secara langsung berdampak pada stabilitas harga komoditas global. Ketidakpastian pasokan energi memicu kekhawatiran mengenai tekanan inflasi yang dapat memaksa bank sentral AS untuk bersikap lebih agresif.

Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, sebelumnya menegaskan komitmen untuk menjaga target inflasi di level 2%. Para pembuat kebijakan di AS menyatakan siap mengambil langkah tegas jika tekanan harga terus bertahan di atas target tersebut.

Data metrik inflasi AS sempat menunjukkan angka 4,1% pada bulan Mei, yang menjadi level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Kondisi ini memperumit rencana penurunan suku bunga dalam waktu dekat yang sebelumnya diharapkan oleh pelaku pasar.

Presiden The Fed New York, John Williams, menyebut kebijakan moneter saat ini sudah berada di posisi yang tepat untuk menekan inflasi. Ia optimistis gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz akan segera teratasi dalam waktu dekat.

Di sisi lain, model GDPNow dari Atlanta Fed merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi AS kuartal kedua menjadi 2,5%. Angka ini turun dibandingkan estimasi sebelumnya yang berada di level 3,1% setelah mempertimbangkan data pendapatan pribadi terbaru.

Sentimen ketidakpastian ekonomi ini turut memengaruhi sektor riil, termasuk industri properti di Indonesia. PT Ciputra Development Tbk (CTRA) melaporkan adanya pelemahan permintaan hunian dengan capaian marketing sales sebesar Rp 4,7 triliun sepanjang semester I 2026.

Pergerakan harga emas juga diikuti oleh logam mulia lainnya di pasar global. Harga perak spot melonjak 2,8% menjadi US$ 57,99 per ons, sementara platinum dan paladium masing-masing menguat 1% dan 1,2%.

Investor kini menantikan arah kebijakan moneter The Fed pada pertemuan pekan depan. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memprediksi peluang sebesar 64% bahwa kenaikan suku bunga akan kembali dilakukan pada bulan September mendatang.