Emas

Harga Emas Tertekan Yield US Treasury, Simak Proyeksi Akhir 2026

64
×

Harga Emas Tertekan Yield US Treasury, Simak Proyeksi Akhir 2026

Sebarkan artikel ini
Tumpukan batangan emas murni dengan latar belakang grafik pasar keuangan yang menurun
Harga emas batangan dan spot terpantau melemah di tengah tekanan kenaikan yield US Treasury pada Selasa (21/7/2026).

JAKARTA – Harga emas di pasar spot maupun harga emas batangan PT Aneka Tambang (ANTM) masih berada dalam tren pelemahan hingga Selasa (21/7/2026). Logam mulia tersebut kini bergerak di kisaran level terendah dalam sembilan bulan terakhir meskipun konflik geopolitik di Timur Tengah terus memanas.

Berdasarkan data Trading Economics pada Selasa (21/7) pukul 15.22 WIB, harga emas spot tercatat berada di level US$ 4.064,50 per ons troi. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 3,0% dalam sebulan terakhir dan terkoreksi 5,9% secara year-to-date (Ytd).

Penurunan juga terjadi pada emas batangan bersertifikat di Logam Mulia Antam. Harga emas Antam terpantau turun Rp 9.000 per gram menjadi Rp 2.601.000 per gram dari posisi sebelumnya di level Rp 2.610.000 per gram.

Tekanan terhadap harga emas utamanya dipicu oleh kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury). Saat ini, yield US Treasury berada di level 4,58% atau mengalami kenaikan sebesar 1,98% dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Kondisi yield yang tinggi membuat investor cenderung mengalihkan modal ke aset berbasis dolar AS dibandingkan emas. Hal ini mengakibatkan harga emas dalam mata uang dolar AS terus tertekan di pasar global.

Kenaikan yield obligasi tersebut merupakan respons pasar terhadap potensi kebijakan suku bunga acuan AS yang tetap tinggi. Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi terhadap tekanan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia.

Harga minyak mentah global sendiri terus menanjak akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar akan terjadinya gangguan pasokan energi global, terutama jika distribusi melalui Selat Hormuz terhambat.

Analis pasar memproyeksikan harga minyak Brent berpotensi kembali menembus level US$ 90 per barel jika ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian ekonomi yang cukup signifikan di tengah melambatnya laju penambahan lapangan kerja di AS pada Juni lalu yang hanya mencapai 57.000 pekerjaan.

Di sisi lain, daya tarik emas sebagai aset safe haven tetap terjaga untuk jangka menengah hingga panjang. Pembelian emas secara masif oleh sejumlah bank sentral dunia sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa dinilai menjadi penopang utama harga logam mulia.

Investor disarankan untuk memanfaatkan momentum harga emas saat ini yang dinilai sudah berada di area support. Akumulasi aset dapat dilakukan secara bertahap guna meminimalisir risiko koreksi lebih lanjut di tengah volatilitas pasar.

Proyeksi hingga akhir 2026 menunjukkan harga emas spot berpotensi bergerak menuju level US$ 4.500 per ons troi. Sementara itu, harga emas Antam diperkirakan dapat mencapai kisaran Rp 2,8 juta per gram seiring dengan prospek kenaikan harga emas global dalam jangka panjang.