Emas

Harga Emas Menguat Setelah Data Inflasi Produsen AS Melandai

93
×

Harga Emas Menguat Setelah Data Inflasi Produsen AS Melandai

Sebarkan artikel ini
Batangan emas murni berkilau dengan latar belakang grafik pasar keuangan yang samar
Harga emas dunia kembali menguat setelah data inflasi produsen Amerika Serikat melandai melampaui ekspektasi.

NEW YORK – Harga emas dunia berhasil memangkas pelemahan pada perdagangan Rabu (15/7/2026) menyusul rilis data inflasi produsen Amerika Serikat (AS) yang melambat melampaui ekspektasi pasar. Kondisi ekonomi ini memberikan sentimen positif bagi logam mulia yang sebelumnya sempat tertekan.

Harga emas spot terpantau stabil di level US$ 4.057,34 per ons troi setelah sempat mengalami penurunan tajam sebesar hampir 1% di sesi yang sama. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup melemah tipis 0,4% ke posisi US$ 4.051,80 per ons troi.

Data Producer Price Index (PPI) AS mencatatkan penurunan sebesar 0,3% secara bulanan pada Juni 2026. Capaian ini berbalik arah dari kenaikan 0,6% pada Mei 2026 yang telah direvisi sebelumnya.

Hasil tersebut berada di bawah prediksi para ekonom yang sebelumnya memperkirakan angka PPI tidak akan berubah. Data ini muncul hanya sehari setelah laporan inflasi konsumen AS juga menunjukkan perlambatan.

Phillip Streible, Chief Market Strategist Blue Line Futures, menyatakan bahwa data PPI yang rendah meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Investor kini tidak lagi terlalu khawatir akan adanya kenaikan suku bunga agresif tahun ini.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Juli 2026 kini turun menjadi 10,2%. Angka tersebut menyusut signifikan dari 16,6% sebelum data inflasi dirilis.

Di sisi lain, pergerakan harga emas masih dibatasi oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketegangan yang meningkat antara AS dan Iran memicu kekhawatiran baru terkait stabilitas pasokan energi global.

AS diketahui memulai gelombang serangan baru terhadap Iran pasca-pemberlakuan blokade laut. Iran merespons ancaman tersebut dengan potensi pembatasan ekspor energi di wilayah kawasan.

Lonjakan harga minyak mentah akibat konflik ini memicu kekhawatiran inflasi global akan kembali menguat. Kenaikan harga energi cenderung memaksa bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang pada akhirnya menekan daya tarik emas.

Lukman Otunuga, Senior Research Analyst FXTM, menilai risiko inflasi masih menjadi bayang-bayang bagi logam mulia. Jika harga minyak terus melonjak, emas berisiko mengalami tekanan jual kembali.

Secara teknikal, emas diperkirakan akan menguji level support di angka US$ 3.950 per ons troi. Namun, jika harga mampu bertahan di atas level US$ 4.000, terdapat peluang bagi emas untuk kembali menguat menuju target US$ 4.100.

Dinamika pasar ini juga berdampak pada logam mulia lainnya. Harga perak tercatat turun 1,8% menjadi US$ 57,55 per ons troi, sementara palladium melemah 0,9% menjadi US$ 1.293,58 per ons troi. Sebaliknya, harga platinum justru menguat 0,9% ke posisi US$ 1.646,47 per ons troi.

Di pasar domestik Indonesia, harga emas batangan Antam sempat mencatatkan kenaikan sebesar Rp 20.000 pada Rabu (15/7/2026). Harga per gram emas Antam berada di level Rp 2.635.000.