Ekonomi

Pemerintah Siagakan 240 Bendungan untuk Antisipasi Dampak Super El Nino

49
×

Pemerintah Siagakan 240 Bendungan untuk Antisipasi Dampak Super El Nino

Sebarkan artikel ini
Pemandangan bendungan besar di Indonesia sebagai infrastruktur cadangan air nasional.
Pemerintah menyiagakan 240 bendungan di seluruh Indonesia untuk mengantisipasi dampak kekeringan akibat fenomena Super El Nino.

JAKARTA – Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menyiagakan 240 bendungan yang tersebar di berbagai wilayah untuk memitigasi ancaman kekeringan ekstrem akibat fenomena Super El Nino. Langkah strategis ini diambil guna memastikan ketersediaan air baku serta menjaga ketahanan pangan nasional di tengah potensi cuaca yang diprediksi lebih kering dari tahun-tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Kurnia Ramadhana, menyatakan bahwa ratusan bendungan tersebut menjadi infrastruktur vital dalam menghadapi musim kemarau panjang. Keberadaan bendungan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan lahan pertanian pada curah hujan.

“Saat ini ratusan bendungan yang ada menjadi salah satu infrastruktur utama yang disiagakan pemerintah dalam menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino,” ujar Kurnia dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu (29/7).

Selain bendungan yang telah beroperasi, pemerintah saat ini tengah merampungkan pembangunan 15 bendungan baru. Proyek strategis nasional tersebut membutuhkan anggaran sebesar Rp 32,8 triliun dan ditargetkan selesai secara bertahap hingga tahun 2029.

Data Kementerian Pekerjaan Umum menunjukkan bahwa 240 bendungan yang beroperasi saat ini memiliki total kapasitas tampungan air mencapai 9,74 miliar meter kubik. Pemerintah juga memperkuat cadangan air melalui 601 situ dan danau dengan kapasitas 135,59 miliar meter kubik.

Selain itu, terdapat 1.034 tampungan air baku berkapasitas 435,67 juta meter kubik serta 10.789 sumur bor dengan kapasitas 114,8 ribu meter kubik per detik. Infrastruktur ini disiapkan untuk menjamin stabilitas pasokan air di sektor pertanian dan kebutuhan masyarakat.

Sejumlah bendungan besar dijadwalkan rampung pada tahun 2026, di antaranya Bendungan Bulango Ulu di Gorontalo dan Bendungan Jragung di Jawa Tengah. Bendungan Bulango Ulu memiliki kapasitas 93,75 juta meter kubik, sementara Bendungan Jragung mampu menampung 90 juta meter kubik air.

Selanjutnya, pemerintah menargetkan penyelesaian Bendungan Budong-budong, Mbai, dan Way Apu pada tahun 2027. Pada tahun 2028, giliran Bendungan Cibeet, Cijurey, dan Jenelata yang dijadwalkan mulai beroperasi.

Bendungan Jenelata di Sulawesi Selatan tercatat memiliki kapasitas tampung yang signifikan, yakni mencapai 223,6 juta meter kubik. Selain itu, Bendungan Tiga Dihaji di Sumatra Selatan disiapkan dengan kapasitas 139,77 juta meter kubik.

Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan jajaran terkait untuk segera melakukan mitigasi komprehensif. Fokus utama mencakup pemenuhan air bagi irigasi serta upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menekankan pentingnya menjaga kelembapan lahan gambut. Langkah ini krusial untuk menekan potensi munculnya titik api selama musim kemarau.

Pemerintah juga akan berkolaborasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk melakukan operasi modifikasi cuaca. Operasi ini bertujuan menjaga debit air di waduk dan danau agar tetap berada pada level aman selama fenomena Super El Nino berlangsung.