Jakarta – Mengurangi intensitas latihan secara bertahap atau tapering menjadi kunci utama bagi pelari maraton agar mencapai performa puncak saat hari perlombaan.
Banyak pelari justru terjebak dalam panic training atau menambah beban fisik di fase akhir karena cemas akan penurunan kebugaran.
Padahal, memaksakan diri berlatih secara berlebihan di saat-saat terakhir sangat berisiko memicu cedera dan kelelahan ekstrem.
Coach dari adidas Runners Jakarta, Aditya M. Pamungkas atau Coach Dodit, mengingatkan bahwa fokus utama fase ini adalah menjaga kestabilan performa dengan meminimalkan kelelahan yang tidak perlu.
Ia menyarankan pelari untuk tetap melakukan easy run atau recovery run dengan volume rendah dan intensitas yang terkontrol.
Studi meta-analisis menunjukkan bahwa menerapkan tapering selama 21 hari dengan memangkas volume latihan sebesar 41 hingga 60 persen mampu meningkatkan performa secara nyata.
Data dari 158.000 pelari rekreasional bahkan membuktikan bahwa kedisiplinan menjalani periode tiga minggu ini berkontribusi pada catatan waktu finis yang 2,6 persen lebih cepat.
Project Director Maybank Marathon, Bambang Irawan, menekankan bahwa prinsip Train Smart, Race Safe, Finish Strong harus diterapkan agar persiapan panjang tidak sia-sia.
Edukasi mengenai pengaturan beban dan pemulihan ini telah disosialisasikan kepada para peserta melalui rangkaian kegiatan Road to Maybank Marathon yang berkolaborasi dengan adidas Indonesia.
Selain porsi lari, aspek pendukung seperti kualitas tidur, pemenuhan hidrasi, dan nutrisi harus menjadi prioritas utama selama masa transisi tersebut.
Pelari juga diingatkan untuk tidak mencoba hal-hal baru, seperti penggunaan sepatu, pakaian, atau asupan nutrisi yang belum pernah diuji sebelumnya.
Kesiapan mental yang matang juga berperan penting dalam mengelola kecemasan agar pelari dapat tampil optimal secara fisik dan psikis saat hari perlombaan tiba.






