Bursa Saham

Kospi Anjlok, IHSG Berpotensi Menarik Arus Modal Asing

67
×

Kospi Anjlok, IHSG Berpotensi Menarik Arus Modal Asing

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan indeks bursa saham yang menunjukkan tren penurunan tajam
Indeks bursa Korea Selatan KOSPI mengalami pelemahan signifikan hingga memasuki fase tren bearish.

JAKARTA – Indeks bursa Korea Selatan, KOSPI, resmi memasuki fase tren bearish setelah mencatatkan penurunan tajam sebesar 34,03% dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Pergerakan negatif ini memicu kekhawatiran pelaku pasar akan potensi tekanan jual yang merembet ke pasar modal regional, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia.

Pada perdagangan Kamis (30/7/2026), indeks KOSPI kembali tertekan dengan pelemahan sebesar 1,26% atau 71,45 poin ke level 5.592,79. Secara akumulatif dalam lima hari perdagangan terakhir, indeks tersebut telah merosot hingga 20,13%.

Koreksi ini terjadi setelah KOSPI sempat mencatatkan reli panjang dengan kenaikan 111,51% sejak awal tahun hingga mencapai rekor tertinggi di level 9.385 pada 22 Juni 2026. Penurunan drastis saat ini dipicu oleh aksi ambil untung masif pada saham sektor kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor, seperti Samsung Electronics dan SK Hynix.

Aksi profit taking tersebut disertai dengan fenomena deleveraging dan arus keluar modal asing yang cukup besar dari pasar Korea Selatan. Kondisi ini menciptakan sentimen risk-off di kawasan Asia, di mana investor global cenderung mengurangi eksposur terhadap aset-aset berisiko.

Para analis menilai bahwa meskipun terjadi arus keluar dana asing dari Korea Selatan, hal tersebut tidak serta-merta menjamin perpindahan modal langsung ke pasar saham Indonesia. Dalam situasi pasar yang tidak menentu, investor global umumnya lebih memilih untuk meningkatkan posisi kas atau memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Di pasar domestik, IHSG saat ini masih menghadapi tekanan jual bersih (net sell) oleh investor asing. Fenomena ini dinilai lebih banyak dipengaruhi oleh faktor internal dibandingkan dinamika eksternal dari Korea Selatan.

Beberapa isu domestik yang menjadi perhatian utama investor meliputi tingkat likuiditas pasar dan pergerakan nilai tukar rupiah. Selain itu, klasifikasi indeks global seperti MSCI dan FTSE serta arah kebijakan pemerintah turut menjadi penentu keputusan investor.

Aksi jual bersih asing yang terus berlanjut di IHSG mencerminkan belum pulihnya kepercayaan investor terhadap fundamental domestik. Analis memperkirakan dampak jangka pendek dari koreksi KOSPI terhadap Indonesia lebih condong ke arah peningkatan volatilitas pasar.

Peluang masuknya kembali aliran dana asing ke Indonesia baru akan terbuka jika volatilitas di Korea Selatan mulai mereda. Investor global diprediksi akan melakukan rotasi portofolio ke pasar dengan valuasi lebih murah dan fundamental stabil setelah fase kepanikan di pasar global berakhir.

Selama arus dana asing masih mencatatkan net sell, ruang penguatan bagi IHSG diperkirakan akan tetap terbatas. Arah pergerakan modal ke depan akan sangat bergantung pada kombinasi katalis domestik, seperti kebijakan Bank Indonesia dan kinerja emiten, serta perbaikan sentimen ekonomi global secara menyeluruh.