Tutup
EmasInvestasiNews

Aset Digital Dominasi Pasar, Investor Cermati Risiko AI

447
×

Aset Digital Dominasi Pasar, Investor Cermati Risiko AI

Sebarkan artikel ini
analis-optimis-investasi-kripto-hingga-emas-moncer-tahun-depan,-asalkan…
Analis Optimis Investasi Kripto hingga Emas Moncer Tahun Depan, Asalkan…

Jakarta – Pasar investasi global diperkirakan akan melanjutkan tren positif hingga tahun 2026. Kinerja gemilang di tahun 2025 menjadi modal utama.

Senior Market Analyst Nanovest, Bryan Oskar, mengungkapkan tahun 2025 menjadi periode menggembirakan bagi berbagai instrumen investasi. Aset tradisional dan digital mencetak rekor harga tertinggi.

“Aset tradisional (emas, saham) dan aset digital, seperti Bitcoin dan saham terkait AI, berlari beriringan menuju puncak baru,” kata Bryan, Senin (22/12/2025).

Aset kripto mencatat lonjakan signifikan. Bitcoin (BTC) sempat menyentuh rekor tertinggi di atas US$126 ribu atau sekitar Rp2,11 miliar pada triwulan III-2025. Meski saat ini terkoreksi di bawah level US$100 ribu.

Emas juga menegaskan posisinya sebagai aset lindung nilai (safe haven). Harga logam mulia itu mencapai US$4.381 per troy ons pada Oktober 2025.Lonjakan harga emas seiring meningkatnya ketidakpastian global.

Bryan menilai kondisi ini membuktikan bahwa diversifikasi instrumen investasi modern semakin efektif. Investor kini mampu mengombinasikan aset tradisional dan digital untuk memperoleh keuntungan lebih optimal.

Optimisme ini tercermin dari reli kuat pasar saham Amerika Serikat sepanjang 2025. Indeks S&P 500, Nasdaq Composite, dan Dow Jones Industrial Average berulang kali mencetak rekor tertinggi. Pendorongnya adalah euforia AI dan kinerja emiten teknologi seperti Nvidia (NVDA) serta Palantir (PLTR).

Kinerja positif juga terlihat di pasar domestik. Indeks Harga saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus level tertinggi sepanjang masa di 8.616 poin. Angka ini melonjak sekitar 45 persen dari titik terendah 5.987 pada April 2025.

Bryan menyebut, peluang berlanjutnya tren bullish di pasar investasi global dapat terealisasi jika bank sentral dunia konsisten melonggarkan kebijakan moneter. Faktor lainnya adalah keberlanjutan inovasi kecerdasan buatan.

Meski optimistis, Bryan mengingatkan investor untuk tetap waspada terhadap risiko valuasi tinggi. Terutama pada saham-saham berbasis AI di Amerika Serikat. Rasio Price-to-Earnings (P/E) sektor ini dinilai telah melampaui puncak gelembung dot-com pada tahun 2000.

Bryan Oskar mengatakan hal tersebut memicu kekhawatiran “AI Bubble”. Apalagi bayang-bayang utang nasional Amerika sebesar lebih dari US$38 triliun atau sekitar Rp 636.120 kuadriliun menjadikan emas tetap sebagai safe-haven favorit dengan potensi rekor baru.