Tutup
NewsRegulasi

FAO Peringatkan Risiko Kontaminasi dari Plastik Daur Ulang

81
×

FAO Peringatkan Risiko Kontaminasi dari Plastik Daur Ulang

Sebarkan artikel ini
bisnis-kemasan-makanan-tembus-ribuan-triliun,-risiko-penggunaan-plastik-daur-ulang-disorot
Bisnis Kemasan Makanan Tembus Ribuan Triliun, Risiko Penggunaan Plastik Daur Ulang Disorot

Jakarta – FAO menegaskan,plastik daur ulang tidak bisa serta-merta diperlakukan aman untuk kemasan makanan. Di balik upaya menekan sampah, lembaga PBB itu memperingatkan adanya risiko kontaminasi kimia jika bahan tersebut beredar tanpa kontrol ketat.

Peringatan ini disampaikan FAO lewat laporan terbarunya yang menyoroti dua sisi dari gerakan pengurangan limbah plastik. Daur ulang memang dibutuhkan untuk menekan krisis sampah global, tetapi sistem yang lemah justru bisa menciptakan ancaman baru bagi keamanan pangan.

Pejabat keamanan pangan FAO, Vittorio Fattori, mengatakan persoalan sampah plastik terus membesar dan solusi daur ulang yang lebih efektif menjadi keharusan. “Sampah plastik merupakan masalah global yang terus meningkat. Daur ulang yang lebih baik dan lebih efektif adalah hal mendasar dan merupakan bagian dari solusi,” ujarnya, dikutip dari situs resmi FAO, Kamis, 14 Mei 2026.

FAO menempatkan kemasan pangan sebagai kategori yang sangat sensitif karena bersentuhan langsung dengan makanan yang dikonsumsi masyarakat. Dalam laporannya, lembaga itu menjelaskan plastik dapat membawa ribuan zat kimia dari proses produksinya, termasuk stabilizer, pewarna, hingga plasticizer.

Risiko juga muncul saat plastik masuk ke rantai daur ulang. Material tersebut dapat terpapar logam berat, bahan kimia tahan api, serta senyawa organik persisten. Karena itu, FAO menilai plastik daur ulang hanya layak digunakan untuk kemasan makanan jika melalui pembersihan dan decontamination yang ketat, disertai pengawasan regulator yang kuat.

Peringatan FAO datang di tengah melonjaknya pasar kemasan makanan dunia. Nilainya diperkirakan naik dari sekitar US$505 miliar atau Rp8.585 triliun pada 2024 menjadi lebih dari US$815 miliar atau sekitar Rp13.855 triliun pada 2030.

Meski pasar terus tumbuh, pengelolaan limbah belum ikut melaju. FAO mencatat, kurang dari 10 persen sampah plastik global saat ini berhasil didaur ulang, meski berbagai kebijakan keberlanjutan di banyak negara mendorong peningkatan angka tersebut.

Laporan itu juga menyoroti kemunculan bahan alternatif seperti bioplastik, serat tanaman, dan material berbasis protein. Produk-produk tersebut kerap dipasarkan sebagai solusi ramah lingkungan, tetapi FAO mengingatkan bahwa tidak semuanya otomatis mudah terurai dan tetap menyimpan risiko.

Bahan berbasis tanaman, misalnya, dapat membawa residu pestisida atau logam berat dari proses pertanian.Adapun material berbasis protein berpotensi memindahkan alergen, termasuk gluten, ke dalam makanan.

FAO turut menaruh perhatian pada mikroplastik dan nanoplastik yang telah ditemukan di berbagai bagian tubuh manusia. Namun, lembaga itu menilai metode pengukuran dan standar globalnya masih belum seragam, sehingga dampak jangka panjangnya belum sepenuhnya terungkap.