Jakarta – Industri perjalanan haji dan umrah nasional tengah menghadapi tantangan berat akibat gejolak geopolitik global. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memicu lonjakan harga avtur yang berdampak langsung pada kenaikan biaya operasional penerbangan.
Direktur Operasional Marco Tour & Travel, Syarif Thalib, mengungkapkan bahwa situasi ini kian diperburuk oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dampaknya, biaya akomodasi hotel dan berbagai fasilitas penunjang ibadah di Tanah Suci ikut membengkak.
Meski diterpa fluktuasi biaya, pihak travel berkomitmen penuh menjaga kelancaran keberangkatan jamaah. Syarif memastikan pihaknya tetap mengedepankan kualitas pelayanan dan fasilitas tanpa melakukan pengurangan standar.
Untuk menyiasati kenaikan harga, perusahaan kini menyediakan variasi paket perjalanan dengan pilihan durasi serta fasilitas yang lebih fleksibel. Opsi ini sengaja dihadirkan agar calon jamaah bisa memilih paket yang sesuai dengan kemampuan finansial masing-masing.
“Kami mengedepankan transparansi biaya serta edukasi agar jamaah memahami setiap perubahan harga yang terjadi,” ujar Syarif.
Berbekal pengalaman selama 22 tahun, perusahaan tetap optimistis mampu menghadapi dinamika pasar internasional. Mereka juga fokus memastikan kenyamanan ibadah yang sesuai sunnah, termasuk pelaksanaan tarwiyah dan bermalam di Muzdalifah.
Di sisi lain, aspek kenyamanan konsumsi jamaah selama di Tanah Suci kini menjadi perhatian serius. Timwas Haji mencatat adanya keluhan jemaah terkait minimnya asupan sayuran hijau dalam menu makanan yang disediakan selama penyelenggaraan ibadah haji.







