New York – Harga emas dunia mencatatkan penurunan signifikan lebih dari 2% pada perdagangan Rabu (10/6/2026), menyentuh level terendah dalam dua bulan terakhir. Tekanan jual yang kuat ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) akibat eskalasi konflik geopolitik yang memanaskan kembali tensi antara Washington dan Teheran.
Harga emas di pasar spot terpantau anjlok 2,7% ke level US$4.148,86 per ons pada pukul 11.59 GMT, angka terendah sejak 23 Maret 2026. Tren serupa juga dialami oleh kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus yang merosot 2,7% ke posisi US$4.169,90 per ons. Penurunan ini mencerminkan sentimen negatif investor terhadap logam mulia di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Analis Senior FXTM, Lukman Otunuga, menyatakan bahwa emas saat ini berada di bawah tekanan berat akibat risiko inflasi yang membayangi pasar. Meskipun emas secara historis dianggap sebagai aset safe haven atau pelindung nilai, kenaikan suku bunga acuan justru menurunkan daya tariknya. Emas tidak memberikan imbal hasil, sehingga investor cenderung beralih ke aset berbunga saat suku bunga AS menunjukkan tren kenaikan.
Gejolak pasar dipicu oleh serangan rudal dan drone yang dilancarkan Garda Revolusi Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain. Aksi ini merupakan balasan atas serangan Washington terhadap target Iran di sekitar Selat Hormuz. Bentrokan ini menandai eskalasi terbesar sejak gencatan senjata disepakati pada April lalu, yang kemudian memicu lonjakan harga minyak global.
Kenaikan harga energi akibat konflik tersebut memberikan tekanan inflasi tambahan bagi ekonomi AS. Kondisi ini memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS, The Fed, akan mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memproyeksikan peluang sebesar 70% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.
Investor saat ini menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS periode Mei yang dijadwalkan akan diumumkan hari ini, serta data Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis (11/6). Kedua indikator ekonomi ini menjadi krusial sebagai penentu arah kebijakan moneter The Fed pada paruh kedua tahun 2026. Otunuga menegaskan bahwa data inflasi tersebut kemungkinan besar akan mengubah ekspektasi pasar secara signifikan.
Secara teknikal, pergerakan harga emas yang jatuh di bawah rata-rata pergerakan 200 hari dinilai sebagai sinyal negatif yang kuat. Tren ini mengindikasikan potensi tekanan jual lanjutan dalam jangka pendek. Selain emas, logam mulia lainnya turut terimbas sentimen negatif, di mana harga perak turun 2,4% menjadi US$63,8 per ons dan platinum melemah 3,9% menjadi US$1.659,18 per ons. Sementara itu, palladium menjadi pengecualian dengan mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,4% ke level US$1.227,25 per ons.







