Energi

Tensi di Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Mentah Kembali Naik

51
×

Tensi di Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Mentah Kembali Naik

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan harga minyak mentah dunia di layar monitor saat ketegangan geopolitik di Selat Hormuz meningkat.
Harga minyak mentah WTI naik dipicu kekhawatiran pasokan energi akibat ketegangan di Selat Hormuz.

JAKARTA – Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kembali mencatatkan kenaikan pada perdagangan Jumat (7/8/2026) seiring dengan memanasnya eskalasi geopolitik di kawasan Selat Hormuz. Berdasarkan data Trading Economics per pukul 10.00 WIB, harga minyak WTI berada di level US$ 77,95 per barel atau menguat 0,66% secara harian.

Lonjakan harga ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap kelangsungan pasokan energi global akibat terganggunya jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. Ketegangan semakin meningkat setelah dilaporkan adanya serangan oleh Iran terhadap sejumlah target di sekitar selat tersebut, menyusul insiden ledakan di dekat Pulau Qeshm.

Situasi di kawasan tersebut kian kompleks dengan adanya rancangan kesepakatan antara Iran dan Oman terkait pengaturan lalu lintas maritim. Dalam draf tersebut, Teheran berupaya memberlakukan larangan melintas bagi kapal-kapal milik Amerika Serikat dan Israel di Selat Hormuz.

Iran juga mewajibkan negara-negara yang dianggap sebagai pihak bermusuhan untuk membayar kompensasi tertentu sebelum mendapatkan izin lintas. Bahkan, otoritas Iran mengusulkan penerapan denda sebesar 20% dari nilai kargo bagi kapal yang melanggar ketentuan tersebut.

Pemerintah Iran menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh baru akan dilakukan apabila blokade maritim yang diterapkan oleh Amerika Serikat dicabut. Saat ini, parlemen Iran tengah membahas proposal tersebut dengan persyaratan pelayaran komersial yang jauh lebih ketat daripada ekspektasi pelaku pasar sebelumnya.

Ketidakpastian regulasi dan ancaman keamanan ini secara langsung menambah premi risiko pada harga minyak global. Kondisi ini memicu keraguan baru di kalangan investor mengenai upaya normalisasi jalur pelayaran yang sebelumnya sempat diharapkan dapat segera pulih.

Secara teknikal, pengamat pasar memproyeksikan pergerakan harga minyak mentah WTI dalam jangka pendek akan berada pada rentang support di level US$ 76,62 per barel. Sementara itu, tingkat resistance diprediksi berada pada level US$ 79,54 per barel.

Dinamika harga minyak saat ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap gangguan pasokan di Timur Tengah. Ketegangan yang berkelanjutan ini menjadi faktor utama yang menekan stabilitas harga komoditas energi dunia di tengah upaya berbagai negara untuk menjaga ketahanan pasokan nasional.

Sebelumnya, pasar sempat merespons positif adanya wacana penundaan serangan militer setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati jeda pertempuran. Namun, perkembangan terbaru di Selat Hormuz kembali mengubah sentimen pasar menjadi lebih defensif.

Para pelaku pasar kini terus memantau perkembangan kebijakan di parlemen Iran serta respons dari komunitas internasional terkait hak lintas di jalur strategis tersebut. Gangguan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz telah tercatat berada pada level yang cukup rendah dalam beberapa waktu terakhir akibat konflik yang berkepanjangan.