Jakarta – Kebutuhan internet cepat dan stabil di indonesia semakin mendesak. Perkembangan teknologi digital memicu perubahan signifikan.
Memasuki 2026, koneksi internet bukan lagi sekadar sarana informasi. internet telah menjadi infrastruktur dasar, setara dengan listrik dan air.
Aktivitas digital seperti bekerja dari rumah, streaming film, hingga bisnis online, membuat masyarakat makin bergantung pada internet yang andal. Peningkatan kebutuhan ini mendorong pemanfaatan jaringan internet rumah.
Data terbaru menunjukkan pertumbuhan signifikan pada titik rumah yang terjangkau jaringan fiber.
FiberStar mencatat lebih dari 3,3 juta homepass pada 2025. Jumlah ini meningkat tajam dari tahun sebelumnya.
pertumbuhan ini menandakan semakin banyak masyarakat memanfaatkan jaringan internet yang tersedia. Tingkat pemanfaatan jaringan (take rate) juga meningkat.
“Yang kami jaga bukan hanya seberapa luas jaringan bertambah, tapi seberapa efektif jaringan itu dipakai,” ujar Yudo Satrio, Network Planning Department Head FiberStar.
Menurutnya, pertumbuhan home connected lebih cepat dibanding pertumbuhan homepass pada 2025. Hal ini menunjukkan utilisasi makin solid dan jaringan yang dibangun benar-benar dimanfaatkan.
Tren ini sejalan dengan perubahan gaya hidup digital. Kecepatan akses internet menjadi krusial karena berbagai layanan digital menuntut koneksi yang stabil dan responsif.
Panggilan video, penyimpanan data cloud, dan konsumsi konten berkualitas tinggi membutuhkan bandwidth besar.
Pembangunan infrastruktur jaringan terus dilakukan untuk mengimbangi pertumbuhan trafik digital. Panjang jaringan fiber di Indonesia kini mencapai puluhan ribu kilometer.
Jaringan ini menghubungkan berbagai wilayah dan menopang konektivitas antar kota dan kawasan permukiman.
“Utilisasi yang sehat harus ditopang desain jaringan yang siap dari hulu ke hilir,” lanjut Yudo.
“Karena itu kami memperkuat backbone, metro, sampai last-mile agar kapasitas lebih merata dan kualitas tetap konsisten ketika trafik tumbuh,” pungkasnya.






