Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memberikan kabar baik terkait harga bawang putih dan kedelai. Ia memastikan kedua komoditas tersebut tetap stabil di tengah kekhawatiran kenaikan biaya logistik global akibat konflik di Timur Tengah.
Bawang putih, yang 90-95% impornya berasal dari China, menjadi perhatian utama. Begitu pula dengan kedelai, bahan baku tahu dan tempe, yang produksi lokalnya hanya mencukupi sekitar 10% kebutuhan nasional.
“Kalau bawang putih kan kebanyakan impornya dari China. Ya, dari China memang kalau logistiknya masih aman. Jadi kita impor untuk bawang putih juga masih jalan, enggak ada masalah,” ujar Budi, seperti dikutip dari detikFinance, Sabtu (28/3).
budi menjelaskan bahwa jalur distribusi impor bawang putih dari China masih berjalan normal. Hal ini belum menimbulkan gangguan pasokan di dalam negeri.
Volume impor bahkan belum mencapai kapasitas penuh, memberikan ruang bagi pemerintah untuk mengatur pasokan.
Pemerintah memilih untuk tidak melakukan impor dalam jumlah besar sekaligus. Impor disesuaikan dengan kebutuhan pasar domestik.
Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas harga dan menghindari lonjakan harga dari negara pemasok.
“Kalau kita tiba-tiba ambil banyak,harga naik. Karena permintaan melonjak, supplier China juga pasti akan menaikkan harga,” jelasnya.Strategi impor bertahap ini dilakukan agar keseimbangan pasokan dan harga tetap terjaga.
“Makanya salah satu caranya adalah impornya itu pelan-pelan, sesuai kebutuhan di dalam negeri. Sehingga harga di dalam negeri jadi stabil,” kata Budi.
Selain bawang putih, kondisi kedelai juga relatif aman. Hingga saat ini, belum ada indikasi kenaikan harga. “Kedelai sampai sekarang juga masih aman, enggak ada kenaikan (harga),” tegasnya.Sebelumnya, Budi mengakui pemerintah menerima keluhan dari pelaku usaha terkait kenaikan biaya logistik akibat lonjakan harga minyak dunia.
“Teman-teman (pengusaha) memang bilang kalau biaya logistik ini meningkat. Sebagian tetap jalan dengan kondisi biaya logistik tinggi, sebagian juga masih memang ada yang wait and see,” ungkap Budi.
Kenaikan biaya logistik dipicu oleh harga energi yang meningkat dan perubahan jalur distribusi global.
Meskipun demikian, permintaan ekspor, khususnya ke Timur Tengah, masih relatif stabil.
“Permintaan dari Timur Tengah sih menurut teman-teman (pengusaha) sebenarnya tetap ada terus, enggak berubah. Ya, cuman mereka mungkin berpikir dengan cost yang tinggi berani enggak ya, mungkin untungnya berkurang gitu kali ya,” ujarnya.
Sejauh ini, belum ada pelaku usaha yang menghentikan ekspor secara total. Sebagian memilih menunggu perkembangan situasi.
Dampak kenaikan biaya logistik dirasakan hampir di seluruh komoditas ekspor. Mayoritas produk yang dikirim ke Timur Tengah adalah barang nonmigas, khususnya dari sektor manufaktur.
Pemerintah dan pelaku usaha tengah membahas skema pembagian beban biaya logistik. Apakah akan ditanggung eksportir, importir, atau diteruskan ke konsumen di negara tujuan.
Pembenahan sektor logistik dalam negeri terus didorong agar lebih efisien dan kompetitif di tengah tekanan global.







