Investasi

NAB Reksadana Turun, HPAM Tetap Optimistis Terhadap Prospek Investasi Jangka Panjang

54
×

NAB Reksadana Turun, HPAM Tetap Optimistis Terhadap Prospek Investasi Jangka Panjang

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Industri reksadana nasional mencatatkan penurunan dana kelolaan yang cukup signifikan sepanjang bulan Juni 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) industri reksadana menyusut menjadi Rp 652,9 triliun.

Angka tersebut mencerminkan penurunan sebesar 4,79 persen secara bulanan dibandingkan posisi Mei 2026 yang mencapai Rp 685,76 triliun. Secara tahun berjalan atau year to date (YTD), NAB reksadana juga terkoreksi sebesar 3,32 persen.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyebutkan bahwa industri reksadana mengalami net redemption sebesar Rp 23,75 triliun pada Juni 2026. Sementara itu, total net redemption secara tahun berjalan tercatat mencapai Rp 2,14 triliun.

Pelemahan NAB ini dipengaruhi oleh kombinasi penurunan nilai pasar aset yang menjadi underlying portofolio reksadana. Selain itu, meningkatnya sikap kehati-hatian investor di tengah volatilitas pasar turut menekan performa industri.

Pasar saham sepanjang bulan Juni masih menghadapi tekanan berat akibat berbagai sentimen global. Pelemahan nilai tukar rupiah dan arus dana asing yang belum stabil menjadi faktor utama yang membebani kinerja pasar modal.

Pergerakan harga obligasi yang fluktuatif juga berdampak langsung pada kinerja reksadana pendapatan tetap dan reksadana campuran. Mekanisme mark-to-market membuat NAB terkoreksi meski tidak selalu mencerminkan adanya aksi penarikan dana atau redemption dalam skala besar.

Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan, menilai banyak investor kini melakukan rebalancing portofolio. Dana dialihkan sementara ke instrumen yang lebih defensif seperti Surat Berharga Negara (SBN) ritel, deposito, maupun reksadana pasar uang.

Langkah tersebut dipandang sebagai penyesuaian alokasi aset semata, bukan perpindahan investasi secara permanen. Reksadana dinilai masih tetap memiliki peran krusial sebagai instrumen investasi jangka menengah hingga panjang dalam portofolio yang terdiversifikasi.

Manajer investasi kini lebih berfokus pada pengelolaan portofolio yang disiplin dan prudent. Strategi ini dilakukan dengan menjaga kualitas aset serta mengedepankan komunikasi aktif agar keputusan investor tetap berorientasi pada tujuan jangka panjang.

Di sisi lain, jumlah investor pasar modal di Indonesia terus menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Pada Juni 2026, jumlah investor bertambah sekitar 1,21 juta dibandingkan bulan sebelumnya.

Hingga saat ini, total investor pasar modal nasional telah mencapai 28,96 juta. Angka ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 42,22 persen secara year to date.

Fungsi intermediasi pasar modal juga tetap berjalan dengan baik di tengah tantangan pasar. Hingga Juni 2026, nilai penghimpunan dana atau fundraising korporasi melalui pasar modal telah mencapai Rp 112,67 triliun.

OJK juga mencatat masih terdapat 11 rencana penawaran umum yang kini berada dalam pipeline. Hal ini menunjukkan bahwa minat perusahaan untuk mencari pendanaan melalui pasar modal masih tetap terjaga meskipun kondisi pasar tengah mengalami moderasi.