Tutup
EkonomiIndustriNewsTeknologi

Pekerja Terampil Kian Mengungguli Gaji Pegawai Kantoran Global

140
×

Pekerja Terampil Kian Mengungguli Gaji Pegawai Kantoran Global

Sebarkan artikel ini
gaji-tukang-kini-bisa-kalahkan-karyawan-kantoran,-ada-yang-tembus-rp1,8-miliar!
Gaji Tukang Kini Bisa Kalahkan Karyawan Kantoran, Ada yang Tembus Rp1,8 Miliar!

Jakarta – Pandangan bahwa gelar sarjana adalah satu-satunya jalur menuju karier mapan kini mulai bergeser. Pekerjaan berbasis keterampilan teknis atau skilled trade justru tengah naik daun dan menawarkan pendapatan yang mampu menyaingi posisi pegawai kantoran.

Perkembangan pesat teknologi dan kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) menjadi pemicu utama lonjakan permintaan tenaga kerja fisik. Profesi seperti mekanik, teknisi robotik, hingga teknisi pendingin ruangan kini begitu dicari perusahaan dengan tawaran gaji yang sangat kompetitif.

CEO Randstad, Sander van’t Noordende, menegaskan bahwa pola perjalanan karier tradisional telah kehilangan relevansinya. Ia menyarankan para pencari kerja untuk lebih adaptif dan jeli melihat peluang di sektor teknis.

“Masa-masa kuliah lalu bekerja di kantor demi mendapatkan karier yang menguntungkan sudah berakhir. Pekerjaan skilled trade berkembang sangat pesat dan ini jelas merupakan jalur karier yang menjanjikan,” ungkap Noordende.

Data Randstad menunjukkan adanya kenaikan gaji yang signifikan bagi pekerja terampil di sejumlah negara maju sejak 2022. Amerika Serikat mencatat lonjakan pendapatan hingga 30 persen, menyusul Belanda sebesar 21 persen, Jerman 18 persen, dan Inggris 9 persen.

Di Belanda, rata-rata pendapatan seorang mekanik kini mencapai US$79 ribu atau setara Rp1,38 miliar per tahun. Sementara itu, teknisi di Jerman mengantongi US$76.600 atau Rp1,34 miliar, dan pekerja konstruksi di Inggris berpenghasilan di atas US$78.500 atau Rp1,37 miliar per tahun.

Tingginya minat terhadap pekerja terampil ini didorong oleh masifnya pembangunan pusat data untuk menopang industri AI global. Kebutuhan tenaga ahli di bidang spesialis otomasi industri dan teknisi listrik pun menjadi prioritas utama.

Noordende menambahkan, peran manusia di lapangan tidak akan tergantikan oleh AI karena mesin tersebut tidak mampu membangun infrastrukturnya sendiri. Sebagai bukti, raksasa teknologi seperti Alphabet, Microsoft, Meta, dan Amazon telah mengalokasikan belanja modal gabungan hampir US$700 miliar atau Rp12.250 triliun tahun ini guna memperluas infrastruktur fisik tersebut.