Jakarta – Dinamika geopolitik global yang memicu lonjakan harga energi dunia menuntut Indonesia untuk lebih waspada. Pemerintah dan pelaku industri kini dihadapkan pada tantangan berat dalam menjaga keseimbangan antara harga yang terjangkau, kepastian pasokan, serta keberlanjutan sektor energi nasional.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyebut kekhawatiran pelaku industri manufaktur terhadap fluktuasi harga dan ketidakpastian pasokan gas bumi adalah hal yang wajar. Pasalnya, gas bumi merupakan bahan bakar krusial yang menggerakkan lini produksi industri di tanah air.
“Situasi ini merupakan dilema kebijakan energi yang sangat nyata. Gas bumi adalah faktor penggerak utama sektor industri nasional,” ujar Josua, Selasa (2/6/2026).
Berdasarkan data Kementerian ESDM, pemanfaatan gas bumi Indonesia memang didominasi untuk kebutuhan domestik dan sektor industri. Hal ini menjadikan isu harga gas dan LNG sebagai variabel vital yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi nasional.
Josua menambahkan, tekanan biaya energi juga dialami banyak negara akibat ketatnya persaingan mengamankan pasokan global. Saat ini, banyak negara di Asia tengah berlomba memperebutkan LNG demi memastikan keberlangsungan industri di dalam negeri masing-masing.
Tingginya harga energi di kawasan Asia terlihat dari data PetroVietnam dan IEEFA 2026, di mana harga gas di Vietnam mencapai US$27,81 per MMBtu. Sementara itu, data S&P Global dan Shell FGEN mencatat harga LNG di Filipina berada di level US$28,50 per MMBtu.
Harga yang lebih tinggi justru terjadi di Singapura yang berperan sebagai hub LNG regional. Di sana, harga untuk sektor bulk industri menyentuh angka US$40,12 per MMBtu, sedangkan untuk sektor retail umum mencapai US$47,54 per MMBtu.
Di sisi lain, harga LNG domestik Indonesia setelah penyesuaian diperkirakan berada di kisaran US$21-US$25 per MMBtu. Angka ini dinilai masih cukup kompetitif dibandingkan negara-negara regional maupun opsi energi alternatif lainnya.
Menurut Josua, memaksakan harga jual LNG tanpa penyesuaian justru berisiko menekan penyedia energi dan mengancam ketersediaan pasokan. Ia menegaskan bahwa dalam kondisi global yang tidak menentu, jaminan kepastian pasokan jauh lebih krusial dibandingkan sekadar mengejar harga murah.







