Tutup
BisnisNewsPendidikan

Prof. Raymond Raih Rekor MURI di Biomedis Interdisipliner

92
×

Prof. Raymond Raih Rekor MURI di Biomedis Interdisipliner

Sebarkan artikel ini
bos-dexa-medica-catat-rekor-muri-karena-punya-paten-terbanyak-di-indonesia-di-bidang-ilmu-ini
Bos Dexa Medica Catat Rekor Muri karena Punya Paten Terbanyak di Indonesia di Bidang Ilmu Ini

Jakarta – Museum Rekor-dunia Indonesia (MURI) menerbitkan Piagam No. 12691/R.MURI/IV/2026 dan menetapkan Prof. Raymond sebagai peneliti Indonesia dengan publikasi Scopus dan paten terbanyak di bidang ilmu biomedis interdisipliner. Selain meneliti, Raymond juga menjabat Business Advancement and Scientific Affairs Director PT Dexa Medica.

Ratusan publikasi ilmiah internasional, puluhan paten, nama yang tercatat dalam AD Scientific Index, serta keanggotaannya di komunitas ilmiah Sigma Xi menjadi jejak produktivitas yang tidak banyak dimiliki dalam satu perjalanan karier. Namun, yang membedakan Prof. Raymond dari sekadar ilmuwan produktif bukan volume karyanya,melainkan keyakinan yang membentuk seluruh pendekatannya,yakni bahwa sains yang kuat tanpa landasan hukum dan etika akan berhenti di batas laboratorium.

Di tengah perannya sebagai salah satu bos Dexa Medica, Raymond juga tengah menyelesaikan studi Doktor Hukum di Universitas Pelita Harapan (UPH). Alasannya mencerminkan cara berpikirnya yang khas.

Menurut Prof. Raymond, inovasi kesehatan harus mampu melewati kerangka regulasi. Molekul baru yang menjanjikan, tetapi tidak dapat melewati jalur regulasi, tidak akan pernah menjadi obat. Sebuah teknologi drug delivery yang canggih tetapi tidak memiliki pijakan etika yang kuat juga dapat menghadapi resistensi yang sebenarnya bisa diantisipasi sejak awal. Karena itu, ia ingin memastikan bahwa apa yang dihasilkan timnya tidak hanya benar secara saintifik, tetapi juga sah secara hukum dan dapat dipertanggungjawabkan secara moral.

“Riset kesehatan tidak boleh berhenti di dinding laboratorium. Ia harus mampu menembus sekat regulasi dan etika agar bisa diimplementasikan secara nyata di tengah masyarakat,” ujarnya.

Sebelum namanya dikenal luas dalam ekosistem riset farmasi Indonesia, prof. Raymond telah terlibat dalam proyek riset badan antariksa Amerika serikat, NASA, melalui program Spacelab Life Sciences. Di sana, ia meneliti dampak kondisi tanpa gravitasi terhadap kesehatan manusia, khususnya risiko osteoporosis pada astronot.

Riset di luar angkasa itu mengajarkan satu hal penting, yaitu variabel yang tampak sekunder dapat menentukan seluruh sistem biologis manusia. Cara berpikir lintas skala itulah yang kemudian menjadi salah satu ciri khasnya.

Dari NASA, ia melanjutkan masa penelitian di University of California San Francisco (UCSF), salah satu pusat riset biomedis terkemuka di dunia. Di sana,ia tidak hanya memperdalam fondasi ilmiah,tetapi juga terlibat dalam proses pembentukan pengetahuan baru,bukan sekadar menjadi pengguna ilmu yang sudah ada.