Jakarta – Proses pemilihan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) kini tengah menjadi sorotan publik. Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, mengaku prihatin setelah tiga calon ketua umum memutuskan mundur di tengah tahapan pemilihan.
Rhenald menilai pengunduran diri massal tersebut memicu tanda tanya besar terkait adanya intervensi pihak tertentu. Ia menyoroti praktik campur tangan senior yang sering kali mencederai iklim kompetisi sehat di dalam organisasi.
“Kenapa ya hal seperti ini terjadi, seperti biasanya, selalu ada pihak-pihak yang ingin ikut campur,” ujar Rhenald melalui akun Instagram pribadinya, Rabu (10/6/2026).
Menurut Rhenald, Hipmi seharusnya menjadi wadah pendidikan demokrasi yang ideal bagi generasi muda. Intervensi berlebihan dikhawatirkan dapat melunturkan kepercayaan serta minat anak muda untuk berkecimpung di dalam organisasi tersebut.
Ia mendesak para senior untuk menahan diri dan memberikan ruang bagi kader muda agar bisa berkompetisi secara fair. Rhenald khawatir pola intervensi yang terus dibiarkan akan membuat anak muda menjadi apatis terhadap ruang kepemimpinan di masa depan.
“Sudahlah, kita berikan kesempatan pada anak-anak muda ini untuk berkiprah dan bersaing secara fair. Biarkan mereka bertarung dengan baik,” tegasnya.
Di sisi lain, dinamika jelang Munas Hipmi juga diwarnai isu krusial terkait hak suara. Empat Badan Pengurus Daerah (BPD) Hipmi dari wilayah Daerah Otonomi Baru (DOB) Tanah Papua menyatakan keberatan atas penetapan status voters.
Mereka menuntut agar diberikan hak yang sama dalam proses pemilihan tersebut. Hingga saat ini, polemik mengenai hak suara ini masih menjadi salah satu isu yang mencuat di tengah persiapan Munas.







