Jakarta – Rupiah dibuka tertekan pada perdagangan Jumat (15/5) dan sempat merosot ke Rp17.614 per dolar AS. Posisi itu menandai pelemahan terdalam sepanjang sejarah mata uang garuda.
Pada awal transaksi pagi, kurs rupiah tercatat turun 84 poin atau 0,48 persen dari penutupan sebelumnya. Tekanan itu menunjukkan sentimen pasar valuta asing masih belum membaik.Pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra menyebut level tersebut sebagai rekor baru pelemahan rupiah. “Iya, level terendah sepanjang sejarah,” ujarnya.
Ia menilai tekanan datang dari kombinasi faktor eksternal yang masih kuat. Konflik di Timur Tengah yang kembali memanas, harga minyak yang tetap tinggi, serta data ekonomi Amerika Serikat yang solid membuat dolar AS terus menguat.“Selain gejolak Timteng dan harga minyak yang masih di level tinggi, ini juga karena data ekonomi AS yang masih bagus sehingga menurunkan peluang Bank Sentral AS untuk memangkas suku bunga acuannya tahun ini,” kata Ariston.
Menurut dia, rilis penjualan ritel AS turut menguatkan pandangan bahwa ekonomi Negeri Paman sam masih tangguh. Kondisi itu membuat pasar kian yakin The Fed belum akan buru-buru menurunkan suku bunga.
Senada, analis pasar uang Lukman leong juga melihat rupiah terseret kekuatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Ia menegaskan, pelemahan terbaru ini kembali memecahkan rekor terendah rupiah.
“Iya, terendah sepanjang sejarah,” kata Lukman.
Lukman menambahkan, perhatian pasar saat ini juga tertuju pada pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump. Walau belum ada pernyataan resmi soal hasil pertemuan, investor disebut cenderung merespons dengan optimistis.
“Rupiah diperkirakan dibuka melemah terhadap dolar AS seiring penguatan indeks dolar di tengah optimisme investor terhadap pertemuan Xi dan Trump, meskipun pertemuan masih berlangsung dan belum ada pernyataan resmi terkait hasil pertemuan tersebut,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kenaikan imbal hasil obligasi AS yang mencapai level tertinggi dalam setahun. Kenaikan itu dipicu data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa kebijakan suku bunga The Fed akan tetap ketat.
Pelemahan rupiah pada pagi ini juga sejalan dengan tekanan yang dialami sebagian besar mata uang Asia. Won Korea selatan turun 0,50 persen, baht Thailand melemah 0,28 persen, ringgit Malaysia terkoreksi 0,39 persen, dan yen jepang turun 0,11 persen terhadap dolar AS.
Di kelompok mata uang negara maju, tekanan serupa terlihat pada poundsterling Inggris yang turun 0,28 persen, dolar Australia 0,47 persen, euro 0,19 persen, dan dolar Kanada 0,16 persen.







