Tutup
BisnisNewsPerbankan

SMBC Indonesia Pacu Kredit, Aset Sentuh Rekor Tertinggi

226
×

SMBC Indonesia Pacu Kredit, Aset Sentuh Rekor Tertinggi

Sebarkan artikel ini
strategi-hati-hati-smbc-indonesia-berbuah-manis
Strategi Hati-hati SMBC Indonesia Berbuah Manis

Jakarta – PT Bank SMBC Indonesia Tbk (SMBC Indonesia) mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun 2025.

Kinerja ini didorong oleh manajemen risiko yang baik dan prinsip kehati-hatian yang diterapkan di seluruh segmen bisnis.

Direktur Utama SMBC Indonesia, Henoch Munandar, mengatakan bahwa capaian ini merupakan hasil dari strategi perusahaan yang fokus pada essential bisnis dan tata kelola yang baik.

Per 31 Desember 2025, total aset konsolidasi SMBC Indonesia mencapai Rp245,9 triliun, meningkat 2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Penyaluran kredit juga mengalami kenaikan sebesar 3,3 persen yoy menjadi Rp185,4 triliun.

pertumbuhan ini didorong oleh segmen korporasi dan komersial yang tumbuh 6,5 persen yoy, serta kredit Jenius di luar Digital Micro yang naik 11,3 persen yoy.

Dari sisi pendanaan, dana murah atau CASA (current Account Saving account) tumbuh signifikan sebesar 16,7 persen yoy menjadi Rp53,2 triliun. Rasio CASA pun meningkat menjadi 40,6 persen.

total dana pihak ketiga (DPK) juga mengalami kenaikan sebesar 8 persen yoy menjadi Rp131 triliun. Struktur pendanaan yang lebih efisien ini menopang ekspansi kredit sepanjang tahun.

Likuiditas dan permodalan bank juga tetap kuat. Liquidity coverage Ratio (LCR) tercatat 229,4 persen dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) 123 persen, jauh di atas ketentuan minimum.

Rasio kecukupan modal (CAR) konsolidasi berada di level 29,3 persen, melampaui rata-rata industri yang sebesar 25,9 persen. Hal ini memberikan ruang ekspansi yang lebih luas bagi bank.

Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan, dengan rasio kredit bermasalah (gross NPL) turun menjadi 2,6 persen dari 2,8 persen pada September 2025.

Pendapatan operasional konsolidasi tumbuh 5,8 persen yoy menjadi Rp18,4 triliun. Pendapatan bunga bersih naik 4,6 persen yoy dengan margin bunga bersih (NIM) terjaga di level 7,0 persen.

Bank juga memperkuat pencadangan kerugian penurunan nilai (CKPN), terutama di grup OTO, sebagai langkah antisipatif menghadapi dinamika ekonomi.

Laba bersih konsolidasi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp506 miliar pada 2025. Secara entitas bank,laba bersih setelah pajak mencapai Rp1,5 triliun.

Sementara itu,BTPN Syariah membukukan laba bersih Rp1.201 miliar, tumbuh 13,2 persen yoy, dengan pembiayaan Rp10,3 triliun atau naik 2 persen yoy.

“Di luar kinerja keuangan, program Daya telah menjangkau hampir 37 juta partisipan melalui lebih dari 12 ribu kegiatan pemberdayaan hingga akhir tahun lalu,” pungkas Henoch.