Agam – Pembangunan proyek Sabodam di aliran Sungai Batang Jabua, Nagari Canduang Koto Laweh, memicu sorotan tajam dari Forum Peduli Canduang Koto Laweh terkait dugaan ketidaksesuaian spesifikasi teknis.
Sekretaris forum tersebut, Budi Anda, menduga adanya penyimpangan metode pengecoran yang tidak sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Budi menjelaskan bahwa dokumen perencanaan semestinya menggunakan beton ready mix mutu FC 20 dan FC 15, namun di lapangan justru ditemukan penggunaan metode site mix.
Pihak forum telah mengonfirmasi temuan ini kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V dan pelaksana proyek agar kualitas konstruksi tidak asal-asalan.
Menurut Budi, pengawasan ketat sangat diperlukan mengingat peran vital fasilitas tersebut dalam menahan sedimen Gunung Marapi demi meminimalisir risiko bencana galodo bagi warga sekitar.
Terkait keluhan tersebut, kontraktor sempat beralasan bahwa akses jalan yang sempit menyulitkan distribusi beton siap pakai ke lokasi proyek.
Menanggapi tudingan tersebut, Konsultan Pelaksana, Legiono, membantah adanya pengurangan kualitas atau spesifikasi dalam pengerjaan bangunan tersebut.
Legiono menegaskan bahwa pelaksana menerapkan metode batching plong mandiri dengan standar mutu yang tetap terjaga sesuai kebutuhan di lapangan.
Pihaknya mengklaim setiap tahapan pengecoran disertai pengujian sampel beton secara berkala pada dua laboratorium berbeda untuk menjamin kualitas material.
Demi menjaga standar teknis, kontraktor memastikan penggunaan material seperti semen, pasir, dan batu split hanya berasal dari pemasok resmi yang berizin.
Proyek pengendali sedimen ini tercatat sebagai bagian dari paket pembangunan berskala besar dengan total anggaran mencapai Rp249,8 miliar yang tersebar di wilayah Agam dan Tanah Datar.






