Tutup
News

Krisis Air Solok Ancam Pertanian, Rahmat Saleh Kawal Penanganan ke Pusat

241
×

Krisis Air Solok Ancam Pertanian, Rahmat Saleh Kawal Penanganan ke Pusat

Sebarkan artikel ini
sumbar-cerdas-bertani,-rahmat-saleh-perjuangkan-krisis-air-di-junjung-sirih-solok
Sumbar Cerdas Bertani, Rahmat Saleh Perjuangkan Krisis Air di Junjung Sirih Solok

SOLOK – Anggota Komisi IV DPR RI, Rahmat Saleh, menjanjikan dukungan penuh untuk mengatasi krisis air bersih yang mengancam lahan pertanian di Kecamatan Junjung Sirih, Kabupaten Solok. Ia menyatakan siap mengawal penanganan masalah ini hingga ke tingkat kementerian.

Rahmat Saleh mengungkapkan, ancaman gagal panen membayangi lebih dari 70 hektare lahan pertanian akibat berkurangnya debit air. Kondisi ini menjadi perhatian utama dalam pertemuan lintas sektor yang digelar pada Selasa (5/8/2025),yang dihadiri oleh perwakilan Dinas PUPR,Dinas Pertanian,camat,dan dirinya.

Menurut Rahmat Saleh, krisis air ini tidak hanya berdampak pada sawah yang sudah lama digarap warga, tetapi juga mengancam hasil dari sekitar 30 hektare sawah cetak baru yang belum lama dibuka.”Kita tidak bisa membiarkan petani terus menunggu. Masalah ini sudah saya kawal sampai ke tingkat kementerian terkait, terutama karena ini berada dalam lingkup kerja Komisi IV,” kata Rahmat.

Berdasarkan data yang dihimpun, total lahan terdampak di Kecamatan Junjung Sirih saat ini mencapai lebih dari 40 hektare sawah produktif, ditambah 30 hektare sawah cetak baru yang belum dapat dimanfaatkan secara maksimal akibat minimnya pasokan air.Krisis ini terjadi akibat menurunnya debit air dari hulu yang selama ini menjadi sumber irigasi utama.

Rahmat menekankan pentingnya penanganan jangka panjang yang berkelanjutan, termasuk kerjasama antara kementerian Pertanian dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk rehabilitasi lahan yang terdampak kebakaran. “Kami sedang berkoordinasi agar Kementerian Kehutanan bisa membantu pengadaan bibit produktif. Kita juga ingin memastikan proses penanganan ini tidak berhenti di forum, tapi dilanjutkan dengan aksi nyata,” jelasnya.

rahmat menambahkan, pemerintah daerah dan masyarakat perlu segera menyusun dan mengajukan proposal secara formal kepada kementerian terkait agar penanganan dapat dilakukan secara terstruktur. “Kita butuh dokumen resmi sebagai dasar ke pusat. Tanpa itu, upaya dari pusat pun tidak bisa maksimal,” tegas Rahmat.

selain itu, Rahmat menyatakan komunikasi lintas sektor akan terus diperkuat, termasuk dengan melibatkan Balai Wilayah Sungai dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana jika diperlukan. Ia menegaskan bahwa krisis ini bukan hanya soal pertanian, tapi juga soal keberlanjutan ekosistem hutan dan air. “Kita harus lihat ini sebagai satu kesatuan. Kalau hutannya rusak, air tidak mengalir. Kalau air tidak ada, sawah gagal panen. Ini tidak bisa ditangani secara sektoral,” ungkapnya.

Rahmat mendorong semua pihak, termasuk perangkat kecamatan dan nagari, untuk aktif dalam komunikasi dengan kementerian. “Saya akan terus dorong dan kawal ini di pusat. Tapi tentu kita butuh gerak bersama. Pemerintah daerah harus responsif, masyarakat harus siap berkolaborasi,” kata rahmat.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Imran, menjelaskan penurunan debit air sangat mungkin disebabkan oleh kondisi lahan hutan yang gundul di wilayah perbukitan sekitar.”Kebakaran hutan beberapa waktu lalu membuat kawasan pinus menjadi terbuka. Ini berdampak pada kemampuan kawasan tersebut menahan air hujan dan menjaga ketersediaan air tanah,” kata Imran.