Tutup
Perbankan

Baznas Tekankan Fleksibilitas Kepemimpinan Optimalkan Pengelolaan Zakat

239
×

Baznas Tekankan Fleksibilitas Kepemimpinan Optimalkan Pengelolaan Zakat

Sebarkan artikel ini
kepemimpinan-adaptif-jadi-strategi-baznas-perkuat-tata-kelola-zakat
Kepemimpinan Adaptif Jadi Strategi Baznas Perkuat Tata Kelola Zakat

Jakarta – Badan Amil zakat Nasional (Baznas) RI mendorong penerapan kombinasi model kepemimpinan yang fleksibel guna meningkatkan efektivitas pengelolaan zakat di era modern. Hal ini dianggap penting untuk merespons perubahan dinamis dalam kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Pentingnya adaptasi gaya kepemimpinan ini mengemuka dalam forum Management Upgrade bertajuk “Penerapan Gaya Kepemimpinan” yang diadakan oleh Pusdiklat Baznas RI di Jakarta, Kamis (21/8/2025). Forum tersebut dihadiri oleh para amil dari berbagai divisi dan tingkatan jabatan,serta disiarkan melalui kanal YouTube Baznas TV.

Nadratuzzaman Hosen, Pimpinan Baznas RI Bidang Transformasi Digital Nasional, yang menjadi narasumber dalam forum tersebut, menjelaskan enam model kepemimpinan yang relevan untuk diterapkan dalam lembaga filantropi seperti Baznas.

“Dalam mengelola zakat, infak, dan sedekah, Baznas membutuhkan pemimpin yang bisa menyesuaikan diri dengan situasi,” ujar Nadratuzzaman dalam keterangan resminya.

Nadratuzzaman menambahkan, keenam model kepemimpinan tersebut memiliki keunggulan masing-masing. “Dan bila diterapkan dengan tepat, akan memperkuat peran Baznas sebagai penggerak kebangkitan ekonomi umat,” imbuhnya.

Lebih lanjut, nadratuzzaman merinci model-model kepemimpinan tersebut. Pertama, kepemimpinan transformasional yang mendorong inovasi, termasuk digitalisasi zakat, dan meningkatkan motivasi kerja amil. Kedua, kepemimpinan delegatif yang memberikan ruang bagi setiap individu untuk bekerja sesuai kapasitasnya, namun tetap memerlukan keseimbangan agar tidak terlalu lepas kendali.

Model ketiga adalah kepemimpinan transaksional yang menekankan penghargaan dan sanksi berdasarkan kinerja. “Transaksional penting untuk memastikan target penghimpunan dan penyaluran zakat tercapai,” kata Nadratuzzaman.

Selanjutnya, terdapat kepemimpinan demokratis yang membuka ruang diskusi dan kolaborasi, terutama dalam merumuskan kebijakan strategis bersama pemangku kepentingan. Nadratuzzaman juga menyinggung kepemimpinan otokratis yang diperlukan dalam kondisi darurat, seperti penyaluran bantuan bencana yang membutuhkan keputusan cepat dan tegas.

“Dan terakhir ada kepemimpinan karismatik. Model ini mengandalkan integritas dan keteladanan pemimpin untuk membangun kepercayaan publik,” jelas Nadratuzzaman.

Nadratuzzaman menekankan bahwa setiap model kepemimpinan memiliki waktu dan konteks penerapan yang sesuai dengan situasi yang dihadapi. “kadang kita perlu inspiratif, kadang tegas, kadang juga memberi ruang partisipasi. Keseimbangan inilah yang membuat Baznas mampu menjalankan mandat negara dan menjaga amanah umat,” tuturnya.

Ia juga menyoroti pentingnya komunikasi dalam kepemimpinan. Seorang pemimpin harus mampu meyakinkan tim internal dan pihak eksternal yang menjadi mitra atau pemangku kepentingan.

Dengan penerapan kepemimpinan yang tepat, Baznas diharapkan dapat meningkatkan kinerja dalam menghimpun dan menyalurkan zakat, sehingga berdampak positif pada pemberdayaan mustahik dan pengentasan kemiskinan. Kombinasi model kepemimpinan menjadi kebutuhan strategis di lingkungan Baznas untuk mencapai tujuan tersebut.