Tutup
BisnisEkonomiNews

Starbucks Restrukturisasi Bisnis, Tutup Gerai dan Pangkas Karyawan

286
×

Starbucks Restrukturisasi Bisnis, Tutup Gerai dan Pangkas Karyawan

Sebarkan artikel ini
phk-besar-besaran,-starbucks-rogoh-rp2,5-triliun-untuk-bayar-pesangon-karyawan
PHK Besar-besaran, Starbucks Rogoh Rp2,5 Triliun untuk Bayar Pesangon Karyawan

Jakarta – Starbucks akan melakukan restrukturisasi bisnis senilai 1 miliar dolar AS atau setara Rp16,7 triliun. Dampaknya, sejumlah gerai di Amerika Utara akan tutup dan ratusan karyawan terkena PHK.

Langkah ini merupakan bagian dari program transformasi “back to Starbucks”. Program ini dipimpin langsung oleh CEO Brian Niccol.

Starbucks berencana mengurangi sekitar 1% dari total gerai yang mereka operasikan langsung di Amerika Utara. Targetnya pada tahun fiskal 2025.

Jumlah ini setara dengan sekitar 500 gerai.Demikian perkiraan dari analis TD Cowen, Andrew Charles.

selain penutupan gerai, sekitar 900 karyawan non-ritel juga akan terkena PHK.

Dalam laporan ke Securities and Exchange Commission (SEC), Starbucks memperkirakan 90% biaya restrukturisasi berasal dari bisnis di Amerika Utara.

Total biaya restrukturisasi mencakup 150 juta dolar AS (Rp2,5 triliun) untuk pesangon karyawan.Kemudian 850 juta dolar AS (Rp14,2 triliun) untuk penutupan gerai.

Sebagian besar biaya ini akan muncul pada tahun fiskal 2025.

Starbucks menargetkan menutup tahun fiskal dengan hampir 18.300 lokasi di Amerika Utara. Jumlah ini termasuk gerai yang dioperasikan perusahaan dan berlisensi.

Pertumbuhan kembali diharapkan mulai terjadi pada tahun fiskal 2026.

Ini adalah putaran kedua PHK di era kepemimpinan Niccol. Sebelumnya, perusahaan telah memangkas 1.100 pekerja korporat pada awal tahun ini.

Starbucks menutup tahun 2024 dengan sekitar 16.000 karyawan non-gerai.

“Langkah-langkah ini dilakukan untuk memperkuat apa yang kami lihat berhasil dan memprioritaskan sumber daya pada hal tersebut,” kata Niccol dalam surat kepada karyawan,seperti dikutip dari CNBC.

Niccol menambahkan, langkah ini diperlukan untuk membangun Starbucks yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih tangguh. Tujuannya menciptakan lebih banyak peluang bagi mitra, pemasok, dan komunitas yang dilayani.

Sebelumnya, pada Juli lalu, Starbucks mengumumkan investasi lebih dari 500 juta dolar AS (Rp8,35 triliun). Investasi ini untuk program “Green apron Service,” yang bertujuan meningkatkan jam kerja karyawan di gerai milik perusahaan.

Penutupan gerai akan menyasar lokasi yang dinilai tidak memenuhi ekspektasi pelanggan dan karyawan. Atau lokasi yang tidak memiliki prospek kinerja keuangan.

Analis TD Cowen,Andrew Charles,menyebut jumlah penutupan gerai lebih besar dari perkiraan.

Serikat pekerja Starbucks Workers United, yang mewakili 12.000 barista di lebih dari 650 gerai, turut menanggapi keputusan ini.

Mereka berharap dapat melakukan perundingan dampak bagi setiap gerai yang terdampak. Tujuannya agar pekerja dapat ditempatkan di gerai lain sesuai preferensi mereka.

Starbucks memastikan karyawan dari gerai yang ditutup akan dipindahkan ke lokasi terdekat atau menerima pesangon. Karyawan non-ritel yang terdampak akan menerima kompensasi dan perpanjangan manfaat.

Setelah pengumuman restrukturisasi, saham Starbucks mengalami penurunan kurang dari 1% dalam perdagangan sore. Secara keseluruhan,nilai saham perusahaan telah merosot lebih dari 8% sepanjang tahun ini.