Jakarta – PT Pertamina Patra Niaga memberikan jaminan bagi kendaraan yang mengalami masalah selama masa transisi peningkatan kadar etanol E5 pada bahan bakar minyak (BBM). Jaminan ini diberikan untuk memberikan rasa aman kepada konsumen.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menyampaikan hal ini dalam sebuah acara di Jakarta, Jumat (24/10).
Ega menjelaskan, jaminan tersebut berupa program Service and Quality (SERVE) yang terhubung langsung dengan Contact Center 135.
“Kami sudah menyiapkan program Service and Quality (tim SERVE) yang terhubung langsung dengan contact center 135.Kalau ada keluhan, tim SERVE akan turun langsung ke lapangan,” kata Ega.
Saat ini, Pertamina Patra Niaga tengah mengevaluasi performa BBM E5 yang telah disalurkan di sekitar 170 SPBU di Pulau Jawa.
SPBU tersebut tersebar di DKI Jakarta, Jawa Barat, jawa Tengah, hingga Jawa Timur.
Setelah evaluasi BBM E5, Pertamina Patra Niaga akan melanjutkan evaluasi terhadap BBM E10.
Ega menambahkan, pihaknya juga berhati-hati dalam menghitung ketersediaan bahan baku etanol dan menentukan wilayah pemasaran yang siap.
“Jika suplai meluas, kami siap ekspansi ke Sumatera dan daerah lain,” ujarnya.
Pertamina Patra niaga mempersiapkan BBM E10 secara menyeluruh, meliputi bahan bakar, layanan, dan metode distribusi dengan rantai pasok yang kuat.
Untuk menjaga dan meningkatkan performa bahan bakar dengan karakteristik etanol yang spesifik, Pertamina menambahkan additive.
“Misalnya, untuk mencegah penurunan energi, kami gunakan additive yang meningkatkan performa. Untuk risiko korosi, kami tambahkan corrosion inhibitor, dan untuk sifat higroskopis etanol, kami tambahkan demulsifier agar air tidak tercampur,” jelas Ega.
“Semua ini dilakukan agar masyarakat tetap mendapatkan bahan bakar dengan standar tinggi, performa stabil, dan aman bagi kendaraan,” lanjutnya.
Penentuan spesifikasi BBM di Indonesia diatur oleh dirjen Migas di bawah pengawasan LEMIGAS. Pertamina berkolaborasi dengan kedua pihak dalam uji mutu BBM.
Menurut Ega, pengujian dilakukan sesuai standar internasional ASTM dan bekerja sama dengan Lemigas untuk hasil yang objektif.
“Semua spesifikasi produk baru mengacu pada ketentuan resmi dari pemerintah,” kata Ega.
Pertamina Patra Niaga juga telah menyusun Standard Operating Procedure (SOP) untuk menjaga kualitas BBM campuran etanol tetap stabil di sepanjang rantai distribusi,termasuk fasilitas khusus seperti kelembapan udara dan tangki penyimpanan.
Ega menambahkan, Pertamina Patra Niaga berpengalaman dengan biodiesel (B40). sumber bahan baku etanol dari dalam negeri membuat perusahaan tidak terlalu terpengaruh fluktuasi kurs.
Dalam rangka transisi menyeluruh, Pertamina juga akan melakukan retail makeover di SPBU untuk meningkatkan pengalaman pelanggan, termasuk perbaikan fasilitas toilet dan musala.
BBM E5 adalah bahan bakar minyak dengan campuran 5 persen bioetanol dan 95 persen bensin, seperti Pertamax Green 95 (RON 95). Bioetanol berasal dari sumber nabati seperti tebu, jagung, atau singkong.
Penggunaan BBM E5 diharapkan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Sejak diluncurkan pada 2003, Pertamax Green 95 mendapat respons positif dari masyarakat dan akademisi.
“Dengan dorongan kuat dari pemerintah, kami siap menjalankan amanah ini untuk menyediakan energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan,” pungkas Ega.







