Jakarta – Program Makan Bergizi gratis (MBG) yang digagas pemerintah menuai sorotan tajam. Program yang bertujuan meningkatkan kesehatan dan pendidikan anak-anak Indonesia ini justru diwarnai laporan keracunan makanan.
Padahal, program ini diharapkan dapat mengatasi masalah stunting dan kesenjangan gizi yang masih tinggi di Indonesia.
Sejumlah laporan keracunan makanan dari program MBG mencuat dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan masyarakat.
Siswa dilaporkan mengalami gejala seperti pusing, mual, muntah, hingga harus mendapatkan perawatan di puskesmas. Beberapa daerah bahkan melaporkan kejadian keracunan massal yang melibatkan puluhan siswa.
Insiden ini memicu pertanyaan tentang kesiapan program ambisius ini.
Mahasiswa Administrasi Publik Universitas Andalas, cherya Agustira Yoandri, dalam analisisnya menyebut keracunan adalah masalah serius yang tidak boleh dianggap remeh.
“Hal ini berkaitan langsung dengan kesehatan dan keselamatan anak-anak,” tegasnya.
yoandri menambahkan,masalahnya bukan hanya soal makanan yang tidak layak,tetapi juga kurangnya kesiapan sistem.
Program nasional seperti MBG memerlukan pedoman yang jelas tentang penyajian makanan, penyedia, pengawasan, dan pemeliharaan kualitas.
“Pada kenyataannya, pedoman ini masih lemah,” tegasnya.
Banyak penyedia dipilih berdasarkan harga terendah, bukan kualitas layanan. Hal ini berdampak pada kualitas bahan makanan dan penanganannya.Pengawasan juga dinilai kurang efektif. Pelaksanaan regulasi sangat tergantung pada pemerintah daerah dan sekolah, yang memiliki kemampuan berbeda-beda.
Akibatnya, masalah sering terungkap setelah siswa keracunan. Ini menunjukkan sistem pengawasan yang tidak berjalan baik dan kurang bersifat pencegahan.
Yoandri berpendapat, pemerintah harus meningkatkan pengawasan dan merestrukturisasi pelaksanaan MBG secara menyeluruh.
“Perbaikan yang menyeluruh ini sangat diperlukan supaya program dapat berjalan dengan aman dan tidak menimbulkan bahaya kesehatan bagi para siswa,” ujarnya.
Ia menekankan, program MBG memiliki potensi besar untuk memperbaiki kesehatan dan kesiapan belajar siswa, asalkan kualitas dan keselamatannya terjamin.
“Program sebesar ini tidak seharusnya dilaksanakan dengan terburu-buru, terlebih lagi hingga membahayakan keselamatan anak-anak,” pungkasnya.







