Tutup
News

Semen Pulih 2026: Peluang Investasi SMGR & INTP?

293
×

Semen Pulih 2026: Peluang Investasi SMGR & INTP?

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Sektor semen nasional diprediksi memasuki fase pemulihan pada tahun 2026, setelah melalui masa sulit di tahun 2025. Meskipun demikian, kinerja sektor ini di penghujung tahun 2025 masih menunjukkan tekanan.

Volume semen nasional pada November 2025 tercatat stabil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Year on Year/YoY), yaitu 6 juta ton. Namun, terjadi penurunan sekitar 3% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya (Month on Month/MoM).

Analis Indo Premier Sekuritas, Jovent Muliadi, menilai penurunan volume bulanan ini sesuai dengan pola musiman di akhir tahun. Dalam lima tahun terakhir, volume semen memang cenderung menurun setiap November.

“Pelemahan volume secara bulanan masih sejalan dengan pola musiman akhir tahun, sehingga belum mengindikasikan penurunan struktural permintaan,” tulisnya dalam riset.

Dari sisi emiten, penjualan Semen Indonesia (SMGR) turun 2% YoY dan melemah 9% MoM. Kontraksi ini terutama disebabkan oleh penurunan tajam pada segmen semen kantong.

Sementara itu, Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) mencatatkan penurunan volume sebesar 2% YoY, tetapi berhasil tumbuh 3% MoM. Kinerja INTP ditopang oleh pemulihan permintaan di wilayah luar Jawa, khususnya Sumatra dan Nusa Tenggara.

Secara kumulatif, volume semen nasional selama Januari–November 2025 tercatat turun 2% YoY menjadi 57,9 juta ton. Hal ini sejalan dengan proyeksi Indo Premier Sekuritas yang memperkirakan penurunan volume sepanjang 2025 berada di kisaran 2%–5%.

Namun, analis Maybank Sekuritas, Kevin Halim, mempertahankan pandangan positif terhadap sektor semen. Menurutnya, valuasi emiten semen saat ini berada di level yang terlalu rendah.

“Kami memperkirakan permintaan semen domestik akan tumbuh 2% secara tahunan pada 2026, didukung oleh perbaikan bertahap pada konsumsi semen kantong,” jelas Kevin.

Kevin menyebut pemulihan daya beli masyarakat menjadi faktor utama pendorong kenaikan permintaan semen ritel. Sementara itu, permintaan semen curah masih tertekan seiring berkurangnya alokasi anggaran pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Selain faktor siklikal, riset Maybank Sekuritas juga menyoroti potensi tambahan permintaan dari berbagai program pemerintah, seperti Program Koperasi Desa Merah Putih, pembangunan tiga juta rumah, BSPS, serta proyek Giant Seawall.

“Jika seluruh program berjalan optimal, kontribusinya bisa mencapai tambahan 1% hingga 10% terhadap total volume semen nasional,” kata Kevin.

Dari sisi industri, Kevin memperkirakan tekanan persaingan akan mulai mereda pada 2026, meskipun tingkat utilisasi masih berada di kisaran 40%–60%. Produsen kecil yang telah beroperasi pada utilisasi lebih tinggi dinilai memiliki insentif lebih rendah untuk melakukan perang harga.

Upaya rasionalisasi harga oleh produsen besar juga dinilai mulai menunjukkan hasil. Sepanjang 2025, rata-rata harga jual domestik SMGR dan INTP tercatat mengalami kenaikan tipis setelah dua tahun berturut-turut mengalami penurunan.

Maybank Sekuritas memperkirakan valuasi sektor semen saat ini berada di sekitar 5 kali EV/EBITDA 2026, jauh di bawah rata-rata historis lima tahun. Kevin menilai hal ini mencerminkan persepsi pasar yang terlalu pesimistis terhadap prospek jangka panjang industri.

Maybank Sekuritas menetapkan SMGR sebagai *top pick* dengan target harga Rp 4.500 per saham. Meski demikian, INTP tetap dinilai unggul dari sisi profitabilitas dan ketahanan neraca keuangan.

Sementara itu, Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi netral untuk sektor semen. Secara valuasi, sektor semen masih berada di bawah rata-rata historis dengan rasio EV/EBITDA sekitar 5,2 kali.