Jakarta – China menunjukkan ketahanan ekonominya di tengah tensi dengan Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump. Rivalitas ekonomi dan teknologi kedua negara tetap tinggi, meski saling ketergantungan tak terhindarkan.
beberapa hari menjelang setahun masa jabatan kedua Trump, China mengumumkan pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5 persen. Angka ini sesuai target pemerintah.
Data lain menunjukkan surplus perdagangan China mencapai rekor, hampir US$1,2 triliun (sekitar Rp18.800 triliun) dalam setahun. Lonjakan ekspor ke negara-negara selain AS menjadi pendorong utama.
Analis menilai, produk China tetap kompetitif di pasar global. Beijing dinilai berhasil meredam dampak kebijakan dagang Trump.
Direktur Studi China dari Eurasia Group, Amanda Hsiao, menyebut pemerintahan Trump mungkin awalnya yakin bisa menekan China melalui ekonomi.
Namun, Beijing memiliki instrumen daya ungkit yang sebanding dengan Washington DC.
Pendekatan Trump di periode kedua lebih pragmatis, fokus pada persaingan ekonomi dan teknologi, bukan ideologi. Hal ini tercermin dalam Strategi Keamanan Nasional AS terbaru.
Setelah dilantik, Trump menerapkan tarif timbal balik, termasuk perang dagang dengan china. Beijing membalas langkah tersebut.
Puncak sengketa terjadi pada April 2025, saat AS mengenakan tarif hingga 145 persen pada barang China. China merespons dengan menaikkan tarif balasan dan membatasi ekspor logam tanah jarang.
“Kedua pihak saling mengancam, tetapi kemudian menyadari dampak buruk bagi ekonomi masing-masing,” jelas Hsiao.
Setelah perundingan dagang awal pada mei 2025, kedua negara menarik diri dari eskalasi lebih lanjut. Tarif diturunkan dan kini berada di kisaran 30 persen untuk produk masing-masing.






